Muatan Balik Tol Laut Masih 10-20% i

Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi dan jajaran terkait seperti PT Pelni, PT Pelindo II meninjau langsung kapal tol laut logistik rute Jakarta-Natuna di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 25 Oktober 2016.

Oleh : Tri Murti / GOR | Senin, 11 Desember 2017 | 09:42 WIB

MALANG - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menyatakan muatan balik program tol laut sampai saat ini masih sekitar 10-20%. Sedangkan tahun 2018, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan muatan balik harus di atas 50%.

"Muatan balik, masih kecil, 10-20%," kata Corporate Secretary PT Pelni (Persero) Didik Dwi Prasetio di sela Kumpul Media 2017 di Kota Batu Malang, Jawa Timur, Minggu (10/12).

Menurut Didik, program tol laut Presiden Jokowi ini masih perlu terus disosialisasikan ke pihak terkait, khususnya pemerintah daerah. Meski begitu, kata dia, sudah ada beberapa pelabuhan yang mengisi, contohnya di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan garam, Larantuka (kopra, ikan, dan kelapa), serta dari Manokwari (besi tua).

"Kekosongan itu terutama trayek T10 yakni Tanjung Perak- Nabire-Wasir dan T12 rute Tanjung Perak-Timika-Merauke," ujarnya.

Oleh karena itu, kata Didik, pihaknya berupaya dengan segala cara agar muatan balik ini dapat dioptimalkan sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Jadi, tol laut ini belum detail diketahui masyarakat bahwa muatan balik bisa diisi oleh barang komoditas yang disinggahi. Kemudian yang kedua, pembelinya mungkin belum ada," katanya.

Salah satu cara untuk menggenjot sosialisasi ini, lanjut dia, Pelni akan menggandeng sejumlah badan usaha milik daerah (BUMD) dan badan usaha milik desa (Bumdes).

"Merekalah nanti yang akan menyosialisasikan kepada masyarakat," kata dia seperti dikutip dari Antara.

Sejumlah BUMD saat ini yang sudah bekerja sama dengan Pelni adalah dari Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat (Mamuju), Maluku Tenggara Barat (Saumlaki), dan Maluku Barat Daya (Moa).

Pada 2017, program tol laut terdiri atas 13 trayek dengan rincian tujuh trayek merupakan penugasan pemerintah kepada Pelni dan sisanya oleh swasta melalui tender.

Kemudian pada 2018, direncanakan meningkat jadi 15 trayek, namun, berapa untuk Pelni dan swasta belum ditentukan.

Terkait kinerja Pelni, kata Didik, pihaknya menargetkan pendapatan usaha tahun ini sekitar Rp 5,1 triliun dan pada 2018 naik jadi Rp 5,6 triliun. Tentu target laba juga naik dari Rp 307 miliar pada 2017 menjadi Rp 340 miliar pada 2018. Target laba sebesar itu antara lain disumbang target jumlah penumpang pada 2017 sebesar 3,98 juta dan pada 2018 menjadi 3,93 juta.

Sedangkan untuk angkutan barang, tambah Didik, pada 2017 ditargetkan 15.529 TEUs (kontainer) dan pada 2018 sebesar 23.183 TEUs. "Penugasan 2017 untuk angkutan barang ada tujuh trayek. Nah, pada 2018, kami ada 15 trayek. Ini memang belum tertulis, tetapi harapannya lebih banyak lagi," kata Didik,



Selengkapnya
 
MORE STORIES