Libur Akhir Tahun, Menko Luhut: Penerbangan ke Bali Aman i

Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan

Oleh : Thresa Sandra Desfika / GOR | Minggu, 17 Desember 2017 | 12:13 WIB

JAKARTA - Pemerintah menyatakan aktivitas penerbangan di Bandara Ngurah Rai, Bali, pada masa liburan akhir tahun ini diperkirakan tak terganggu pergerakan abu vulkanik erupsi Gunung Agung. Bali tetap aman untuk jadi destinasi berlibur pada periode Natal dan Tahun Baru 2018, meski status Gunung Agung masih awas.

Kondisi ini disampaikan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan yang didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan usai menggelar rapat koordinasi tentang perkembangan terkini situasi Gunung Agung dengan kementerian dan lembaga terkait di Jakarta, Jumat (15/12).

“Dari hasil paparan vulkanologi tadi, statusnya Gunung Agung tetap awas, tapi hanya pada radius 10 km paling jauh itu, sisanya seluruh Bali normal,” ungkap Luhut dalam pernyataan resminya, Jumat (15/12).

Perhitungan arah angin, tambah Luhut, juga menuju ke timur sehingga abu letusan Gunung Agung diperkirakan tidak akan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

“Kalaupun ada perubahan minor ke arah timur menurut Pak Jonan (Menteri ESDM), ada Notam (notice to airmen) yang bisa diberitahukan,” tambahnya.

Untuk memastikan keamanan kondisi Gunung Agung apabila terjadi letusan, Menko membeberkan, Kementerian ESDM telah membuat simulasi bahaya berdasarkan potensi aliran awan panas, aliran lahar, maupun penyebaran abu vulkanik dengan berbagai skenario.

“ESDM atau vulkanologis sudah membuat simulasi 20 juta lahar yang ada kalau dia meledak 2,5 juta apa dampaknya, kalau meledak 5 juta lahar apa dampaknya, atau sampai 20 juta lahar itu apa dampaknya,” sebut dia.

Simulasi itu, tambah Luhut, menunjukkan bahwa daerahdaerah pariwisata yang lokasinya berada di luar radius 10 km dari puncak Gunung Agung dalam kondisi normal dan aman.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menuturkan, pihaknya telah memperhitungkan kondisi cuaca terutama arah angin dan hujan terhadap sebaran abu yang berpotensi dapat mengganggu penerbangan.

“Diperkirakan secara umum pada Januari di Indonesia, bahkan juga di Pulau Bali angin bertiup dari barat ke arah timur. Demikian juga pada lapisan 500 milibar atau sekitar 1.000 milibar atau di sini sekitar 1.500 meter,” ujar Dwikorita.

“Nah di situ arah angin juga masih bertiup ke arah timur, sehingga seandainya terjadi erupsi dan mengeluarkan abu, abu itu akan bergerak ke arah timur tidak mengganggu Bandara Ngurah Rai,” tambah mantan Rektor Universitas Gadjah Mada tersebut.

Kondisi ini, menurutnya, dibantu oleh curah hujan menengah yang bisa mencapai 300 mm. “Artinya hujan ini terjadinya masih berada mulai dari atas ketinggian gunung sehingga abu dapat mencuci udara,”tambah Dwikorita.



Selengkapnya
 
MORE STORIES