Peran Wanita di Dunia Maritim RI Kian Besar i

Carmelita Hartoto.

Oleh : Novy Lumanauw / Thresa Sandra Desfika / GOR | Kamis, 15 Maret 2018 | 15:42 WIB

JAKARTA - Ketua Umum Indonesian National Shipowner's Association (INSA) Carmelita Hartoto menilai perbedaan perlakuan gender antara perempuan dan laki-laki pada dunia maritime Indonesia sudah mulai mengikis seiring semakin besarnya peran perempuan di kancah maritime saat ini. Kesempatan berkembang bagi perempuan di dunia maritim sangat terbuka, tergantung dari kompetensi individu masing-masing.

“Tidak ada perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan di dunia maritime Indonesia. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” kata Carmelita saat memberikan pemaparan pada sesi pembahasan peran perempuan dalam dunia kemaritiman di acara pameran dan konferensi Asia Pacific Maritime (APM) ke-15 di Singapura, Rabu (14/3).

Carmelita menjadi tamu kehormatan pada acara yang berlangsung di Marina Bay Sands, Singapura tersebut dari 14-16 Maret 2018 dan dihadiri oleh seluruh pelaku kemaritiman dan stakeholder kemaritiman dunia. Dia juga mendapat kehormatan menjadi penggunting pita sebagai tanda dibukanya secara resmi pameran dan konferensi APM ke-15.

“Peran perempuan dalam kancah kemaritiman tidak bisa dipisahkan sejak lama, misalnya adanya Laksamana Malahayati yang dikenal sebagai pahlawan dan memimpin perjuangan perempuan Aceh pada abad ke-16,” kata Carmelita sebagaimana dikutip dalam siaran pers INSA.

Namun perlu diakui, kata dia, jumlah pelaut perempuan masih sedikit jika dibandingkan pelaut laki-laki. Per 9 Maret 2018, jumlah pelaut perempuan mencapai 10.320 orang dari total jumlah pelaut yang ada yakni 899.768 orang.

Kendati begitu, ungkap Carmelita, peran perempuan dalam industri maritim Indonesia telah memasuki banyak bidang. Hal ini bisa dilihat dari beberapa jabatan strategis yang telah dipegang perempuan di dunia kemaritiman Indonesia sejak beberapa tahun terakhir.

Peran perempuan itu misalnya, menjadi pelaku usaha pelayaran, menjadi pucuk pimpinan manajemen perusahaan pelayaran, pejabat di kementerian terkait kemaritiman, pakar hukum maritim, dan konsultan hukum maritim. Bagi masyarakat Indonesia, perempuan yang bekerja di sektor maritim bukan hal asing.

“Peran perempuan dan lakilaki di dunia maritim Indonesia sudah menuju arah positif dalam kesamaan pemberian hak dan kewajiban, kendati peran perempuan masih harus terus didorong," jelas dia.

Menurutnya, pemberdayaan perempuan pada sektor maritime bukan ditujukan menjadi pesaing bagi laki-laki, melainkan bersinergi antar keduanya. “Karena dalam menjawab tantangan dan menangkap peluang masa depan di bidang maritime membutuhkan kolaborasi gender,” papar Carmelita. 



Selengkapnya
 
MORE STORIES