Bandara Binta Baru Riau akan Dibangun pada Mei 2018 i

Ilustrasi penerbangan sipil.

Oleh : Thresa Sandra Desfika / GOR | Senin, 26 Maret 2018 | 16:20 WIB

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebutkan pengerjaan konstruksi Bandara Bintan Baru di Kepulauan Riau akan dimulai pada Mei 2018 dan diproyeksikan selesai pada tahun depan. Bandara tersebut rencananya dioperasikan oleh perusahaan patungan hasil kerja sama antara penggagas proyek, yakni PT Bintan Aviation Investments (BAI) dan PT Angkasa Pura (AP) II.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso mengatakan, izin prinsip pembangunan Bandara Bintan Baru serta rencana induknya sudah diterbitkan. Kemenhub tinggal mengeluarkan izin mendirikan bangunan bandar udara (IMBB), tetapi masih menunggu PT BAI menyelesaikan desain detail teknis (detailed engineering design/DED).

"Sekarang progresnya sudah land clearing. Tinggal menunggu IMBB. IMBB belum keluar karena DED belum selesai. Tapi mereka start membangun fisiknya pertengahan tahun ini. Lahan utamanya sudah matang. Jadi bulan Mei konstruksi digelar. Tahun depan selesai," kata Agus di Jakarta, Minggu (25/3).

Agus menuturkan, jika berhasil, Bandara Bintan Baru akan menjadi proyek yang pertama yang dibangun sepenuhnya oleh dana swasta. Terkait pengoperasiannya, BAI dan AP II sudah sepakat untuk bekerja sama membentuk perusahaan patungan yang akan mengelola bandara tersebut.

"Koordinasinya dengan Angkasa Pura sudah firm. Apa dan mendapatkan apa sudah dikoordinasikan. Ini memang oleh swasta, tapi kami harus dukung karena bandara ini bisa mengembangkan daerah-daerah wisata di Bintan," terang Agus.

Bandara ini akan memiliki panjang landasan mencapai 3.500 meter (m) sehingga siap melayani operasional pesawat-pesawat berbadan lebar langsung dari mancanegara. Selama ini, penerbangan dengan tujuan Bintan mayoritas dilakukan dengan transit terlebih dahulu di Bandara Changi, Singapura.

Terkait navigasi penerbangan, diputuskan bahwa pengelolaan ruang udara approach control (APP) di atas bandara ini akan dikelola oleh AirNav Indonesia cabang Tanjung Pinang di Bandara Raja Haji Fisabilillah. Namun, Bandara Bintan Baru akan memiliki area aerodrome control (ADC) secara independen, sama seperti Bandara Raja Haji Fisabilillah dan Bandara Hang Nadim di Batam yang letaknya berdekatan.

"Di kawasan ini nantinya akan ada tiga runway yang sejajar dari timur ke barat, yaitu runway Bandara Raja Haji Fisabilillah, Bintan Baru, dan Bandara Hang Nadim. Jadi harus ada koordinasi dengan bandara lain. Pengelolaan navigasi penerbangan di tingkat APP akan dikelola oleh AirNav Tanjung Pinang. Namun, AirNav cabang masing-masing bandara bisa mengelola navigasi secara independen di tingkat ADC yang lebih bawah," lanjut Agus.

Menurutnya, saat infrastruktur bandara sudah jadi, akan dilakukan validation approve oleh Kemenhub dan kemudian diterbitkan aeronautical information publication (AIP) untuk selanjutnya dipublikasikan secara internasional. Dengan demikian, keberadaan bandara akan bisa diketahui oleh dunia penerbangan internasional.

Selain untuk melayani penerbangan wisata domestik dan internasional, bandara tersebut juga diproyeksikan untuk melayani penerbangan pesawat-pesawat yang akan dirawat. Hal itu karena di kawasan sekitar bandara juga akan dikembangkan aerospace park dan akan ada banyak perusahaan maintenance, repair, overhaul (MRO) yang beroperasi.

Agus mengharapkan, investor Bandara Bintan Baru segera menyosialisasikan keberadaan bandara ini kepada maskapai nasional dan asing sedini mungkin. PT BAI harus proaktif untuk menggandeng maskapai-maskapai nasional dan internasional yang potensial untuk melakukan operasi di Bandara Bintan Baru.

"Semakin awal dipublikasikan, akan semakin baik karena dengan demikian network bisnisnya sudah terbentuk jauh-jauh hari. Selain itu yang penting adalah koordinasi dalam mendukung safety penerbangan juga sudah bisa tersosialisasikan dengan baik," ujarnya.



Selengkapnya
 
MORE STORIES