5 Investor Berebut Jadi Kontraktor Patimban Tahap I i

Budi Karya Sumadi.

Oleh : Thresa Sandra Desfika / GOR | Selasa, 1 Mei 2018 | 17:07 WIB

JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan lima perusahaan menjadi kandidat utama kontraktor pembangunan tahap 1 fase 1 Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Dari lima perusahaan itu dua di antaranya adalah BUMN, yaitu PT Wijaya Karya (Wika) Tbk dan PT Pembangunan Perumahan (PP) Tbk, serta tiga lainnya merupakan perusahaan asal Jepang.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Agus Purnomo mengatakan, pihaknya optimistis peresmian Pelabuhan Patimban bisa dimulai dalam waktu dekat ini karena proses penentuan kontraktor sudah hampir final.

“Saya kira dalam waktu dekat ini pembangunan Pelabuhan dimulai karena dari sisi kontraktor, nominasi yang utamanya sudah ada, yakni dua BUMN dan tiga perusahaan Jepang,” ungkap Agus di Jakarta pada akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, kelima perusahaan tersebut akan bekerja sama membangun tahap 1 fase 1 Pelabuhan Patimban yang ditargetkan rampung dan beroperasi mulai tahun depan.

Sebelumnya, Direktur Kepelabuhanan Kemenhub Chandra Irawan memperkirakan, groundbreaking Pelabuhan Patimban dilaksanakan pada pertengahan Mei 2018. Jadwal groundbreaking tersebut mundur dari rencana semula pada April 2018.

Dia menjelaskan, salah satu penyebab jadwal groundbreaking yang mundur adalah proses pelelangan kontraktor yang belum selesai padahal sudah dimulai sejak akhir tahun lalu. “(Groundbreaking) April belum (bisa). Kemungkinan rencana groundbreaking dilaksanakan pada pertengahan Mei. Proses lelang kontraktor belum tuntas karena masih dalam proses negosiasi,” ungkap Chandra.

Meskipun pelaksanaan groundbreaking mundur dari rencana semula, Chandra optimistis, pengoperasian Pelabuhan Patimban dapat tetap direalisasikan pada Maret 2019 atau sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan.

“Secara schedule, target rencana (pengoperasian Pelabuhan Patimban) masih bisa (direalisasikan),” imbuh Chandra.

Selain melelang kontraktor pembangunan Pelabuhan Patimban tahap 1 fase 1, pemerintah juga akan menender operator pelabuhan pangganti Pelabuhan Cilamaya tersebut. Nantinya operator pelabuhan ini merupakan perusahaan gabungan antara Indonesia dan Jepang.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pernah mengungkapkan, operator Patimban yang dicari ini haruslah gabungan antara badan usaha Indonesia dan Jepang. Adapun porsi kepemilikan Indonesia menjadi mayoritas minimal 51% dan Jepang dibatasi maksimal 49%.

Porsi saham Indonesia pun akan dibagi lagi antara badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional. Namun, Menhub belum dapat memastikan besaran porsi pembagian antara BUMN dan swasta nasional tersebut.

“Jadi, operator Patimban ini akan dilelang. Kira-kira pada Mei atau Juni mendatang. Yang bisa saya tegaskan sekarang adalah porsi Indonesia nanti lebih besar dari Jepang. Kalau untuk besaran BUMN dan swastanya, kita lihat nanti,” ungkap Budi Karya. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES