Relokasi Warga di Bandara Kulon Progo Kedepankan Nilai Etika dan Empati i

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo dan Direktur Utama PT Angkasa Pura 1, Faik Fahmi masing-masing bersama jajarannya.

Oleh : L Gora Kunjana / GOR | Senin, 7 Mei 2018 | 18:20 WIB

KULON PROGO- Pemkab Kulon Progo dan Angkasa Pura I selalu mengedepankan pendekatan yang bersifat persuasif dan humanis. Demikian pula terkait rencana relokasi warga yang masih bertahan di kawasan IPL bandara Kulon Progo Yogyakarta. Kedua pihak akan melakukannya dengan seksama dan hati-hati.

Hal tersebut disampaikan Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo pada saat memberikan arahan kepada sekitar 250 orang relawan yang terdiri dari satpol pp, Tagana dan BPBD di aula Adikarto kantor Bupati Kulon Progo, Senin (7/5).

"Semuanya harus humanis, tidak boleh ada yang kasar, berikan penjelasan," tutur Hasto. "Ingat bahwa kehadiran kita di sana adalah untuk membantu mereka."

Selain Bupati Kulon Progo, pengarahan juga dihadiri Direksi AP1 dan aparat pemerintahan lainnya.

Sementara itu Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi yang turut hadir dalam acara pengarahan tersebut menyampaikan pentingnya penyelesaian pembangunan Bandara baru ini. "Ini adalah penugasan pemerintah kepada AP1, maka tugas penting ini perlu kami laksanakan dengan sebaik baiknya" kata Faik dalam arahannya.

Angkasa Pura 1 berencana untuk melakukan relokasi terhadap warga yang masih tersisa di wilayah IPL bandara Kulon progo tersebut dalam waktu dekat. Dari pantauan media tersisa 37 kepala keluarga (KK) atau kurang dari satu persen warga yang masih bertahan untuk melakukan penolakan terhadap rencana bandara baru untuk Yogyakarta tersebut.

"Nantinya, bandara baru ini dapat didarati oleh pesawat-pesawat yang jauh lebih besar dengan kapasitas penumpang yang juga lebih banyak, maka jumlah wisatawan ke Yogyakarta pun diharapkan dapat meningkat," ujar Faik Fahmi menutup arahannya.



Selengkapnya
 
MORE STORIES