Siap Rights Issue 30%, Soliditas Kinerja Bank Bukopin i

Ilustrasi Bank Bukopin

Oleh : Jauhari Mahardhika / GOR | Senin, 7 Mei 2018 | 07:52 WIB

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) menunjukkan pertumbuhan kinerja yang on track, seiring kualitas kredit yang membaik dan likuiditas terjaga. Perseroan akan fokus pada ekspansi produk berbasis ATMR rendah.

Manajemen Bank Bukopin menegaskan bahwa secara fundamental kinerja dan operasional saat ini dalam kondisi yang kuat dan baik, serta tetap bertumbuh secara berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Bukopin Eko Rachmansyah Gindo menegaskan, hingga kuartal I-2018, kinerja perseroan masih tumbuh sesuai target yang ditetapkan manajemen, dimana laba sebelum pencadangan tumbuh sebesar 28,6%. Sedangkan laba bersih tumbuh +/- 10% dibandingkan dengan pencapaian pada periode sama tahun lalu.

“Hingga kuartal I-2018, laba sebelum pencadangan mencapai Rp 295,7 miliar dan laba bersih sebesar Rp 126,7 miliar. Pencapaian itu menunjukkan bahwa kinerja perseroan hingga saat ini tumbuh on track,” kata Eko di Jakarta, Minggu (6/5).

Pada periode yang sama, Bank Bukopin juga membukukan pencadangan sebesar Rp 155 miliar dan menurunkan NPL absolut, sehingga rasio NPL Net per 31 Maret 2018 mencapai 4,47%, membaik dari sebelumnya yang sebesar 6,37% per 31 Desember 2017.

Adapun posisi likuiditas perseroan juga terjaga dan sehat. Hal itu terlihat dari posisi LDR yang berada pada kisaran 79% dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 90,1 triliun.

Secara keseluruhan, posisi asset perseroan per 31 Maret 2018 mencapai Rp 107,7 triliun, meningkat Rp 1,3 triliun dibandingkan per 31 Desember 2017.

Eko menegaskan, saat ini, perseroan telah dan akan terus melakukan konsolidasi internal yang difokuskan pada pengembangan bisnis berbasis ATMR rendah, penghimpunan sumber dana murah, peningkatan fee based income, perbaikan efisiensi operasional, dan percepatan peningkatan kualitas kredit serta penjualan agunan yang diambil alih.

Sementara itu, untuk jangka panjang, perseroan telah menyiapkan bisnis masa depan melalui bisnis start up dan aliansi fintech, serta menjangkau nasabah baru dari generasi milenial dengan penerapan core banking system berbasis digital. Selain itu, perseroan juga terus meningkatkan kualitas manajemen risiko, compliance, dan pengendalian internal yang lebih kuat.

Setelah RUPSLB pada Januari 2018, telah dibentuk satu direktorat baru yang fokus dalam pengembangan bisnis consumer melalui peningkatan sinergi dengan Bukopin Finance dan peningkatan kerja sama dengan pengembang untuk memacu penyaluran KPR.

Pada awal Maret 2018, perseroan telah meluncurkan produk Flexy Bill berbasis trade finance untuk fasilitas pembiayaan pembayaran listrik yang bekerja sama dengan PLN. Dalam dua tahun ke depan, produk Flexy Bill ditargetkan mencapai Rp2 triliun atau berkisar 10% dari total pembayaran listrik di seluruh Indonesia.

Dari sisi rasio kecukupan modal, CAR perseroan pada periode yang sama mencapai 11,1%, meningkat dibandingkan CAR per 31 Desember 2017 yang sebesar 10,5%. Untuk meningkatkan rasio kecukupan modal menjadi di atas 14%, perseroan telahmenyiapkan rencana aksi korporasi, yaitu melaksanakan rights issue sebesar 30% dari jumlah saham beredar, revaluasi aset, dan divestasi saham perseroan pada Bank Syariah Bukopin.

“Kami optimistis aksi korporasi tersebut akan berjalan sesuai rencana, mengingat saat ini sudah terdapat dua potensial investor yang telah dan akan melakukan proses due diligence,” tutur Eko.



Selengkapnya
 
MORE STORIES