Pengelola Kawasan Industri MM 2100 Bagikan Dividen Rp 10 Per Saham i

kika: Seri selaku Investor Relation, Swan Mie Rudy selaku Direktur, Yoshihiro Kobi selaku Presiden Direktur serta Leo Yulianto Sutedja selaku Wakil Presiden Direktur PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk usai RUPST & Paparan Publik Perseroan di Kawasan Industri MM 2100, Cibitung Bekasi, Rabu, (9/5/2018)

Oleh : Mashud Toarik / GOR | Rabu, 9 Mei 2018 | 16:24 WIB

Bekasi - Pengelola Kawasan Industri MM 2100, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk berencana membagikan dividen tunai sebesar Rp 96,47 miliar atau Rp 10 per lembar saham atas perolehan laba bersih tahun buku 2017.

Nilai dividen tersebut telah disetujui oleh pemegang saham emiten dengan kode perdagangan BEST itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Kawasan Industri MM 2100 Cibitung Bekasi, Jawa Barat pada Rabu, (9/5/2018).

Direktur PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk, Swan Mie Rudy mengatakan dividen yang akan dibayarkan pada 6 Juni 2018 tersebut mencerminkan dividen payout ratio sebesar 20%, atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 9,5% atau Rp 3,43 per lembar saham.

Selama tahun 2017, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk meraih penjualan tanah industri seluas 42,2 hektare (ha), melebihi target yanng ditetapkan BEST sebesar 30-40 ha. Dari sisi keuangan, di tahun 2017, Perusahaan telah mencapai penjualan sebesar Rp 1,006 triliun.

“Untuk tahun 2018, Perseroan menaikkan target penjualan tanah industri menjadi 35-45 ha dengan target harga rata-rata penjualan Rp 2,6juta-3,2juta/m2,” ujar Swan Mie Rudy.

Sementara sampai dengan kuartal 1 2018, BEST mengklaim telah membukukan 4,4 hektar penjualan tanah dan memililiki pipeline sebanyak 79,6 ha.

Untuk tahun 2018, Perusahaan menargetkan kenaikan penjualan 10-15% dengan tetap mempertahankan marjin-marjin keuntungan EBITDA minimal 60% dan net margin 40-50%.

Per kuartal 1 2018, Perusahaan melaporkan kenaikan penjualan sebesar 14% dibanding periode sama 2017 menjadi Rp 211miliar, posisi EBITDA Rp 130 miliar (naik 24% dibanding kuartal 1 2017), dan laba bersih naik 12% menjadi Rp 94 miliar.

“Strategi Perusahaan adalah tetap fokus pada pengembangan kawasan industri MM2100 terutama dengan meningkatnya nilai strategis lokasi kawasan industri dari pembangunan infrastruktur di Bekasi dan sekitarnya seperti JORR II Cibitung - Cilincing, tol layang Jakarta-Cikampek, rencana pembangunan Tol Jakarta-Cikampek Selatan, proyek perluasan Tanjung Priok dan pembangunan Pelabuhan Patimban,” imbuh Seri, Investor Relation BEST.

BEST menurutnya juga melakukan pengembangan bisnis untuk mendukung aktivitas di kawasan industri dengan Hotel Enso (hotel bisnis bintang 4) yang telah diluncurkan sejak November 2017 lalu, pembangunan BeFa Square yang akan beroperasi pertengahan tahun, pembangunan Waste Water Treatment Plant (selesai 2019), optimalisasi sarana pendukung industri dengan penyewaan Standard Factory Building dan Modern Logistic Center.

Terkait pengembangan bisnis tersebut, BEST membidik peningkatan recurring income sebesar 15%-20% dari total pendapatan. Sementara sepanjang 2017 kontribusi recurring income sebesar 10%. “Pertumbuhan recurring income sangat tergantung dengan sebesara besar penjualan lahan industri yang kami raih,” ujar Seri.

Logo Baru

Pada kesempatan tersebut Direktur Utama Perusahaan, Yoshihiro Kobi, juga menjelaskan tentang perubahan logo Perusahaan menjadi BeFa Industrial Estate. Logo perusahaan berasal dari huruf kanji Jepang (‘hi’) yang berwarna biru, berarti fajar atau awal dari hari atau matahari menandakan era baru dari arah dan strategi Perusahaan untuk mengembangkan kawasan industri di luar Bekasi selain tetap mempertahankan keunggulan Perusahaan di kawasan industri MM2100 yang telah berdiri.

Terkait ekspansi tersebut, Perseroan mengaku membidik sejumlah daerah di Pulau Jawa dan saat ini sedang dilakukan visibility study. Sayangnya Kobi belum mau mengungkap detil daerah baru yang dibidik untuk pengembangan bisnis.

Masih terkait pengembangan bisnis, tahun ini BEST mengalokasikan dana belanja modal Rp 600 miliar. Seri mengatakan sekitar 90% dana tersebut akan dialokasikan untuk akuisisi landbank baru dengan target 50-60 ha serta pengembangan infrastruktur kawasan industri. Selain dari dana internal rencana ekspansi berpotensi didanai dari pinjaman pihak ketiga.

“Saat ini kami masih memiliki fasilitas pinjaman US$ 55 juta dari total fasilitas pinjaman sindikasi sebesar US$ 130 juta,” ujarnya. Fasilitas tersebut menurut Seri bisa dicairkan bila sewaktu waktu ada peluang tambahan akuisisi tanah di luar target 50-60 ha lahan, termasuk yang terkait rencana pengembangan bisnis di luar kawasan industri MM 2100.



Selengkapnya
 
MORE STORIES