2018, Bisnis Perhotelan Membaik i

Ruben Amor Beda Kulle, Chief Executive Officer (CEO) Adonara Group.

Oleh : Laila Ramdhini / GOR | Jumat, 2 Maret 2018 | 20:00 WIB

JAKARTA - Bisnis perhotelan di Jakarta dan kota besar lainnya diyakini membaik memasuki tahun politik 2018. CEO Adonara Hotels Group Ruben Amor mengatakan kesempatan ini mesti direspon aktif oleh para pengusaha dan operator hotel.

“Sejumlah kegiatan dan perjalanan dinas institusi pemerintah maupun partai politik mampu menopang keterisian kamar serta ruang pertemuan di hotel,” kata Ruben di Jakarta, belum lama ini.

Ruben mengatakan pasar hotel-hotel di luar Jabodetabek didominasi oleh institusi pemerintah yakni 40% dari jumlah konsumen. Dengan adanya berbagai agenda dalam rangkaian pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 2018, maka industri perhotelan ikut terdongkrak.

“Di daerah masih bergantung pada segmentasi pasar pemerintah, karena mereka pemda memiliki anggaran yang pasti. Selain itu, ada juga yang mengandalkan pariwisata. Kalau di Jakarta mungkin masih bisa membidik perusahaan swasta,” katanya.

Sementara, Ruben mengungkapkan target Adonara Hotels Group untuk membuka delapan hotel baru pada tahun ini. Saat ini, perusahaan sudah mengelola sepuluh hotel yang tersebar se-Indonesia.

“Kami optimistis dapat mengoperasikan total 18 hotel baru pada tahun ini,” katanya.

Ruben menyatakan, delapan hotel baru itu akan dibangun di sejumlah kota besar seperti Bogor, Makassar, dan wilayah Indonesia bagian timur. Rencananya, delapan hotel tersebut akan dikelola di bawah brand Arnava dan U-Stay yang dimiliki perseroan. Kedua merek tersebut merupakan merek hotel berbintang dua dan tiga yang menjadi target pasar utama Adonara.

“Tahun ini kami tambah kelola delapan hotel baru, empat hotel di bawah brand Arnava, empat hotel di bawah brand UStay,” katanya.

Adapun dari 10 hotel eksisting yang telah dikelolanya, dua di antaranya menggunakan brand Arnava, satu hotel menggunakan brand U-Stay, dan satu hotel menggunakan brand Amanuba, yang merupakan hotel berbintang empat.

Sementara itu, enam hotel lainnya dikelola dengan menggunakan brand pemilik hotel seperti RTS Hotel dan Zenith Hotel.

Sementara, dari total 8 hotel baru itu, sebanyak dua hotel yakni Arnava Senen dan Arnava Bekasi dibangun dengan permodalan dari perusahaan. Ruben menilai aksi ini sebagai bentuk dari perluasan bisnis Adonara, yang bukan hanya sebagai pengelola hotel namun juga investor.

Ruben menjelaskan, Hotel Arnava di kawasan Senen, Jakarta Pusat yang baru diluncurkan pada pekan lalu merupakan hotel pertama yang didirikan oleh Adonara Group dari kas sendiri. Adonara menggelontorkan investasi sebesar Rp80 miliar untuk mengakuisisi hotel yang memiliki 80 kamar ini. “Kami harap tingkat keterisian minimal 75%. Sehingga pengembalian modal membutuhkan waktu 8 tahun,” kata dia.

Di sisi lain, Ruben menyebut bisnis pengembangan hotel bintang dua dan tiga jauh lebih menjanjikan ketimbang hotel kelas atas bintang empat dan lima. Pasalnya, pasar untuk hotel bintang dua dan tiga jauh lebih besar dan modal yang dibutuhkan pun tidak sebesar hotel mewah.

“Kami lebih fokus bermain di bintang 2 dan 3 karena market lebih besar modal relative kecil. Hotal bintang 2 hitungan investasi per kamar Rp400 juta, margin bisa sampai 40%. Hotel bintang 5, marginnya hanya sekitar 30%,” jelasnya.

Selain bermain di dalam negeri, kata Ruben, pihaknya juga akan melakukan ekspansi ke luar negeri. Adonara akan membidik negaranegara di Asia Tenggara dan Eropa untuk membuka hotel dengan merek di bawah Adonara Hotels Group.

“Kita mau bersaing di pasar internasional, sehingga nama Adonara bisa terkenal di seluruh dunia,” katanya.

Adonara tengah menyiapkan investasi hingga Rp100 miliar untuk membuka cabang hotel baru di Eropa pada 2018. Ruben menjelaskan, pihaknya berencana membuat perusahaan patungan dengan mitranya yang merupakan pemilik hotel di Berlin, Jerman.

Sementara itu, Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan Performa pasar properti di Jakarta pada kuartal terakhir 2017 cukup bagus, terutama dari sisi okupansi. Ferry mengatakan pada 2018, tingkat keterisian hotel di Jakarta akan naik sekitar 5,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh sejumlah perhelatan besar yang akan digelar di Jakarta seperti ASEAN Games.

“Namun demikian untuk harga memang masih belum bisa naik tinggi karena hotelier masih bersaing ketat,” ujarnya.



Selengkapnya
 
MORE STORIES