Sistem Pembayaran di Era Perang Tarif i

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Oleh : Achmad Deni Daruri / GOR | Rabu, 16 Mei 2018 | 13:37 WIB

Dampak perang tarif impor kepada sistem pembayaran sangatlah serius. Perang tarif akan membuat keseimbangan baru dalam neraca perdagangan dunia. Pergeseran ini akan membuat sistem pembayaran grosir dan ritel juga akan terkena dampaknya. Jika perang tarif impor berlangsung, akan terjadi perbedaan pergerakan aliran barang dan jasa, yang ujung-ujungnya berimplikasi kepada perubahan keseimbangan dalam aliran pembayaran.

Sejauh mana perang tarif akan mengubah jumlah dan kualitas dari sistem pembayaran di dunia, patut menjadi pertanyaan yang menuntut jawaban segera. Buktinya, perubahan lingkungan yang cepat biasanya menyebabkan kepunahan massal. Salah satu perkiraan adalah bahwa kurang dari 1% dari spesies yang ada di bumi adalah yang masih ada.

Mengingat teori sistem pembayaran masih belum berkembang dalam memprediksi perkembangan sistem pembayaran akibat perang tarif, maka ada baiknya penggunaan ilmu biologi digunakan untuk menjelaskan fenomena ini.

Keberadaan "daya dukung global", membatasi jumlah kehidupan yang dapat hidup, meski bisa diperdebatkan, seperti pertanyaan apakah juga akan membatasi jumlah spesies. Sementara catatan hidup di laut menunjukkan pola pertumbuhan logistik, kehidupan di tanah (serangga, tanaman dan tetrapoda) menunjukkan kenaikan eksponensial dalam keragaman.

Di sisi lain, perubahan melalui Fanerozoikum berkorelasi lebih baik dengan model hiperbolik (banyak digunakan dalam biologi populasi, demografi dan macrosociology, serta keanekaragaman hayati fosil) dibandingkan dengan model eksponensial dan logistik. Model yang terakhir menyiratkan bahwa perubahan dalam keragaman dipandu oleh orde pertama umpan balik positif (nenek moyang lebih, lebih banyak keturunan) dan atau umpan balik negatif yang timbul dari keterbatasan sumber daya.

Model hiperbolik menyiratkan orde kedua umpan balik positif. Pola hiperbolik pertumbuhan penduduk dunia muncul dari umpan balik orde kedua positif antara ukuran populasi dan laju pertumbuhan teknologi. Karakter hiperbolik pertumbuhan keanekaragaman hayati dapat juga dicatat oleh umpan balik antara keragaman dan kompleksitas struktur komunitas. Kesamaan antara kurva keanekaragaman hayati dan populasi manusia mungkin berasal dari fakta bahwa keduanya berasal dari campur tangan kecenderungan hiperbolik dengan dinamika siklus dan stokastik.

Model hiperbolik dan stokastik ini tampaknya juga yang memengaruhi populasi sistem pembayaran di dunia saat ini. Sejauh mana akan terjadi kepunahan pada sistem pembayaran tertentu akibat perang tarif, ini juga dapat dipelajari dari kepunahan spesies dari teori biologi.

Selama abad terakhir, penurunan keanekaragaman hayati telah semakin diamati. Pada 2007, Menteri Lingkungan Hidup Jerman saat itu, Sigmar Gabriel memperkirakan bahwa sampai 30% dari semua spesies akan punah pada tahun 2050. Dari jumlah tersebut, sekitar seperdelapan jenis tumbuhan yang dikenal terancam punah. Perkiraan mencapai 140.000 spesies per tahun (berdasarkan spesies-area teori). Angka ini menunjukkan praktik-praktik ekologi yang tidak berkelanjutan, karena beberapa spesies muncul setiap tahun. Masalah ini tentu masih butuh kajian lebih lanjut.

Namun, hampir semua ilmuwan mengakui bahwa laju kehilangan spesies saat ini lebih besar dibanding sepanjang sejarah manusia, dengan kepunahan terjadi pada tingkat ratusan kali lebih tinggi dari tingkat kepunahan latar belakang. Pada 2012, beberapa studi menunjukkan bahwa 25% dari semua spesies mamalia bisa punah dalam 20 tahun.

Praktik ekologi yang tak berkelanjutan ini juga akan terjadi pada sistem pembayaran dengan terjadinya perang tarif impor di dunia saat ini dan di masa mendatang.

Jika terjadi kepunahan dalam sistem pembayaran tertentu akibat perang tarif, yang tentunya dapat terjadi akibat risiko sistemik yang muncul dari defisit neraca berjalan, dapat membuat rontoknya lembaga keuangan yang mendukung sistem pembayaran. Krisis ekonomi Asia tahun 1998, misalnya, menghantam lebih dari 20% populasi perbankan yang menopang sistem pembayaran. Jika unsur ini berpadu dengan kemajuan teknologi maka kepunahan dari elemen sistem pembayaran dapat lebih besar lagi.

Kerusakan habitat telah memainkan peran penting dalam kepunahan. Konversi ke "sepele" ekosistem standar (misalnya, monokultur berikut deforestasi) secara efektif menghancurkan habitat spesies yang lebih beragam yang mendahului konversi.

Dengan demikian, monokultur dalam sistem pembayaran sebaiknya dihindari agar risiko sistemik tidak muncul pada saat perang tarif yang menyebabkan perekonomian dunia menyusut. Erosi genetik ditambah dengan polusi genetik dapat menghancurkan genotipe unik, sehingga menciptakan krisis tersembunyi yang bisa mengakibatkan ancaman berat dari monokultur semakin tak terhindarkan.

Lantas apa yang bisa diharapkan oleh regulator atau pemain sistem pembayaran agar perubahan eksogen dari perang tarif dapat dimanfaatkan secara positif? Lagi, ilmu biologi memberikan jawabannya.

Meskipun secara biologi sebagian terbesar mutasi menyebabkan gangguan pada kebugaran (fitness) individu, bahkan kematian, mutasi sebenarnya adalah salah satu kunci bagi kemampuan beradaptasi suatu jenis (spesies) terhadap lingkungan baru atau yang berubah. Sisi positif ini dimanfaatkan oleh sejumlah bidang biologi terapan.

Untuk itu, ilmu sistem pembayaran terapan juga memanfaatkan mutase yang bakal terjadi akibat perubahan lingkungan akibat perang tarif ini. Perubahan ini harus diarahkan dengan memberikan sistem insentif yang tepat. Diperkirakan sistem pembayaran akan mengalami mutase dengan teknologi intensif yang akan menghasilkan sistem pembayaran berbasis mutan.

Membidik tonjolan buatan terbatas pada genom merupakan salah satu teknik genetika arah-balik yang memanfaatkan mutasi untuk melihat efek fenotipik mutasi tersebut. Dipandang dari sisi ini, membidik tonjolan buatan terbatas pada genom adalah teknik yang sudah biasa dipakai.

Perbedaannya, membidik tonjolan buatan terbatas pada genom mengintegrasikan teknik high-throughput screening untuk menentukan letak mutasi yang terjadi sehingga lokasi mutasi (pada genom) dapat ditentukan dan dianalisis lebih lanjut (misalnya disekuensing atau dibuatkan primer). Tonjolan buatan terbatas (induced local lesion) yang dimaksud adalah tonjolan berkas Asam deoksiribonukleat (DeoxyriboNucleic Acid/DNA) yang terjadi karena DNA pasangannya kehilangan beberapa basa “N” secara setempat.

Teknik rekayasa genetika dapat diterapkan pada sistem pembayaran agar sistem pembayaran memiliki daya tahan dalam menghadapi risiko sistemik yang muncul akibat perang tarif impor di dunia.

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis



Selengkapnya
 
MORE STORIES