Ekspor Batik Diprediksi Bangkit i

Ilustrasi batik motif Semanggi

Oleh : Rahajeng KH / GOR | Rabu, 16 Mei 2018 | 23:02 WIB

JAKARTA – Ekspor batik diprediksi bangkit tahun ini, dengan estimasi pertumbuhan 10% menjadi US$ 64 juta dari 2017 sebesar US$ 58,46 juta. Tahun lalu, ekspor batik anjlok 61% dari 2016 sebesar US$ 149,9 juta.

Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengatakan, penurunan ekspor tahun lalu disebabkan anjloknya permintaan dari pasar global, karena daya beli melemah. Apalagi, kondisi ekonomi juga tengah lesu, sehingga berdampak cukup signifikan terhadap ekspor batik.

Gati mengakui, pasar potensial batik masih skala domestik, yakni 90%, sedangkan sisanya ekspor. Tahun ini, menurut dia, promosi batik yang dilakukan pemerintah akan lebih gencar, sebagai upaya perluasan pasar.

“Batik Indonesia tidak ada saingannya, karena khas. Tiongkok dan Malaysia tidak bisa buat yang seperti kita, berbeda batiknya,” kata Gati di Jakarta, Selasa (15/5).

Batik dari Tiongkok, kata Gati, kebanyakan bersifat cetak dan secara motif kurang berkembang. Sementara itu, batik Malaysia berbeda dengan Indonesia, sehingga dia tidak khawatir pasar batik akan tergerus oleh produk batik impor.

“Kreativitas batik memang dari Indonesia, khususnya dari Jawa. Batik sebenarnya cuma kita, tidak ada saingan. Malaysia coba-coba bikin batik, tapi mereka melukis, bukan membatik, beda sekali,” kata dia.

Dia menambahkan, salah satu motif batik yang berpotensi besar adalah batik Madura, Pamekasan. Kekayaan bahan baku yang dimiliki Madura membuat batik tulis yang diproduksi berkualitas tinggi dan murah.

Gati menuturkan, salah satu tantangan ekspor batik adalah promosi di pasar global. Saat ini, batik Indonesia terkenal harganya mahal. Selain itu, diperlukan pengenalan pengetahuan proses membatik, terutama batik tulis.



Selengkapnya
 
MORE STORIES