Pertemuan Trump-Jong Un Diharapkan Tetap Terlaksana i

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump.

Oleh : Leonard AL Cahyoputra / GOR | Kamis, 17 Mei 2018 | 10:55 WIB

WASHINGTON – Gedung Putih menyuarakan harapan bahwa pertemuan antara pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un Korea dan Presiden AS Donald Trump akan berjalan seperti yang direncanakan. Pertemuan tersebut terancam gagal karena Korut mengancam akan menarik diri karena terus mendapat tekanan sepihak dari AS mengenai denuklirisasi.

“Kami masih berharap pertemuan itu akan berlangsung dan kami akan melanjutkan jalan itu. Pada saat yang sama kami sudah siap bahwa ini mungkin negosiasi yang sulit,” kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders kepada Fox News, Rabu (16/5).

Ia mengatakan bahwa Trump siap jika pertemuan berlangsung dan jika tidak, AS akan terus melanjutkan kampanye tekanan maksimum yang telah berlangsung. Tiongkok, sekutu utama Korut, juga menyerukan pertemuan untuk terus maju.

“Situasi di semenanjung telah mereda, yang sangat berharga,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok (Kemlu) Lu Kang pada konferensi pers reguler. Komentar-komentar dari Korut tentang kemungkinan batalnya pertemuan, yang ditetapkan pada 12 Juni 2018 di Singapura, adalah tanda pertama yang mengejutkan setelah berminggu-minggu dilakukan pendekatan. Para pengamat mengatakan Korut tampaknya berusaha mendefinisikan kembali ketentuan pembicaraan. “Ini adalah taktik diplomatik,” ucap Kim Hyun-wook, profesor di Akademi Diplomatik Nasional Korea, kepada AFP.

Ia menjelaskan Kim Jong Un seperti didorong untuk menerima permintaan AS agar negaranya melakukan denuklirisasi. Tetapi sekarang ia mencoba untuk mengubah posisinya setelah normalisasi hubungan Korut-Tiongkok dan mengamankan bantuan ekonomi. “Diplomasi sulit Korut yang klasik antara AS dan Tiongkok telah dimulai,” ucap Kim.

Para pejabat AS telah berulang kali mengklaim berhasil menekan Korut agar mau maju ke perundingan. Joshua Pollack dari Middlebury Institute for International Studies mengatakan, pemerintahan Korut merasa kesal dengan nada kemenangan seperti itu.

“Orang Korut tidak senang dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Masih ada jurang yang menganga antara harapan untuk diplomasi di Korut dan AS,” ucap dia. (afp)



Selengkapnya
 
MORE STORIES