MPI Optimistis Revenue Capai Rp 2,4 Triliun i

Lemari khusus penyimpan obat milik bagian farmasi Siloam Blu Plaza, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (6/12).

Oleh : Indah Pujiastuti / FW | Jumat, 5 Mei 2017 | 13:46 WIB

Jakarta - Perlambatan ekonomi yang terjadi di tahun 2016 membuat kinerja keuangan beberapa sektor industri mengalami penurunan. Perusahaan sektor jasa merupakan salah satu bisnis yang terkena dampak. Meskipun mengalami penurunan bisnis di tahun 2016, PT Millenium Pharmacon International Tbk (MPI) optimis bisnis bertumbuh positif di tahun 2017. PT Millenium Pharmacon bergerak di bidang distribusi produk farmasi, suplemen makanan, dan alat kesehatan dengan
cakupan seluruh Indonesia (nationwide).

"Kami menargetkan revenue tahun 2017 sebesar Rp 2,4 triliun dengan net profit mencapai Rp 16,1 miliar," kata Direktur Utama PT Millenium Pharmacon International Mohamad Muhazni bin Mukhtar dalam Paparan Public Expose di Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Selasa (3/5).

Berdasarkan data keuangan perseroan tahun 2016, revenue tumbuh 15% atau sebesar Rp 1,9 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung dengan pertumbuhan pendapatan dari alat kesehatan, obat non resep dan obat resep. "Tahun 2015 obat resep tumbuh sebanyak 72%, disusul alat kesehatan sebanyak 11,2% dan obat non resep sebesar 16% sedangkan di tahun 2016 berubah drastis kontribusi terbesar dihasilkan dari alat kesehatan sebesar 69%, obat non resep tumbuh 26,4% lalu obat resep hanya tumbuh 8%," terang Mohamad.

Menurut Mohamad penurunan pada obat resep dikarenakan impact dari BPJS sehingga obat resep menurun. Tahun 2017 perseroan menargetkan obat resep mampu memberikan kontribusi terhadap revenue sebayak 72%, obat non resep sebanyak 14% dan alat kesehatan sebanyak 14%.

Hingga saat ini kontribusi MPI terhadap BPJS masih berkisar 5%. "Diperkirakan bisa turun kontribusi tersebut tahun ini dikarenakan salah satu prinsipal kami yang sebelumnya mendistribusi ke BPJS kalah tender dari situlah tahun ini kami punya target mencari prinsipal baru guna meningkatkan pertumbuhan penjualan," terangnya.

Prinsipal yang mempercayakan produknya didistribusikan terdiri dari prinsipal nasional maupun prinsipal multinasional, dengan sasaran distribusi apotik, rumah sakit untuk produk-produk ethical dan alat kesehatan, dan toko obat maupun pasar modern untuk produk-produk bebas (OTC/Over The Counter).

Pada Desember tahun lalu MPI telah bekerja sama dengan prinsipal baru yaitu PT Mersi Pharma. Dengan kerja sama tersebut MPI tetap fokus pada bisnis obat resep, obat non resep dan alat kesehatan. "Selain mencari prinsipal baru, target kami di tahun 2017 juga akan menambah satu cabang di Manado, Sulawesi Utara untuk memaintain growth," kata Mohamad.

Tiap tahun perseroan konsisten menambah cabang. Tahun sebelumnya MPI membuka cabang di Sidoarjo dan Tasikmalaya. "Pokoknya setiap tahun kami buka 1 kantor cabang. Selain buka cabang, kami ingin beli aset, lebih ke ownership dan sedang kami identify dimana cabang berpotensi di samping kami masih tetap menyewa gedung," imbuh Mohamad. Sebelumnya, di tahun 2016 MPI telah membeli cabang di Bandar Lampung.

Tahun ini perseroan menetapkan anggaran belanja modal (capex)  sebesar Rp 22 miliar. "Investasi teknologi berupa peralatan kantor paling banyak dialokasikan yakni hampir Rp 9,3 miliar dari total capex Rp 22 miliar, sisanya untuk beli bangunan (investasi kantor cabang) sebesar Rp 4,1 miliar, perbaikkan gedung dan perbaikan sewa sebanyak Rp 2,6 miliar dan Rp 1 miliar, kendaraan bermotor sebanyak Rp 3,2 miliar dan sisanya Rp 942 juta untuk peralatan teknik," papar Mohamad. Pengembangan Information Technology sangat penting agar pertumbuhan kinerja perusahaaan menjadi lebih efisien dan lebih efektif.

Realisasi capex di kuartal I-2017 baru mencapai 10% dikarenakan investasi cabang baru atau bangunan masih belum terealisasi dan dari sisi investasi IT masih dalam proses pendanaan.

"Oleh karena itu planning ke depan MPI harus lebih agresif dan ambisius dengan melakukan pembenahan-pembenahan di internal perusahaan dan dari sisi eksternal kami akan bersikap terbuka bila induk di Malaysia memberikan dana tambahan karena MPI tetap harus ekspansi," katanya. Ini merupakan salah satu upaya perseroan agar saham perusahaan berkode SDPC ini bisa likuid di pasar modal.

Per Desember 2016, total aset perseroan tumbuh 15,83% menjadi Rp 733,4 miliar dibandingkan tahun 2016 yakni sebesar Rp 633,2 miliar. Diperkirakan tahun 2017 laba bersih perseroan tumbuh 45% menjadi Rp 16,1 miliar dari capaian laba tahun lalu sebesar Rp 11,1 miliar.



Selengkapnya
 
MORE STORIES