Perusahaan Disarankan Jeli Gunakan Solusi Open Source i

Ilustrasi perangkat lunak (software) open source.

Oleh : Emanuel Kure / FER | Kamis, 5 April 2018 | 20:08 WIB
Kategori :

Jakarta - Chief Executive Officer (CEO) PT Equnix Business Solutions, Julyanto Sutandang, mengatakan, pihaknya menyarankan kepada setiap perusahaan untuk jeli menggunakan solusi open source. Hal tersebut, berkaca dari sangketa hukum antara Oracle dengan Google terkait tuduhan pelanggaran hak cipta penggunaan Java API (Application Programming Interace) pada dalvik yang merupakan bagian dari sistem operasi Android.

"Sangketa itu akhirnya dimenangkan oleh Oracle. Namun, sangketa tersebut telah memiliki dampak besar, tidak hanya bagi kedua perusahaan yang berseteru tapi juga bagi industri software terutama open source," ujar Julyanto, dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (5/4).

Menurut Julyanto, kemenangan Oracle menjadi berita besar di kalangan profesional teknologi informasi (TI), terutama bagi mereka yang berkecimpung dan menggunakan perangkat lunak atau software berbasis open source. Meski demikian, ada banyak implementasi software open source yang bisa menjadi subyek tuntutan berikutnya, baik oleh Oracle maupuan pemilik software propietary lain seperti, Microsoft, SAP, dan sebagainya.

"Dari kasus tersebut, kita semua bisa berkaca, meskipun diuntungkan oleh ketersediaan software open source yang memberikan alternatif solusi lebih baik dan efektif, namun kita juga harus jeli agar tidak salah memilih. Tidak semua software open source adalah murni atau tidak ternoda hak cipta propietary yang terkait dengan lisensi komersial," tambahnya.

Julyanto mengatakan, pada umumnya software open source dibuat untuk satu tujuan ideal sebagai bagian dari infrastruktur TI secara umum, seperti sistem operasi Linux, Database Relational PostgreSQL, Kannel SMPP Gateway, Apache Web Server, dan sebagainya.

"Meski demikian, ada pula perangkat lunak yang didistribusikan dalam bentuk kode sumber dengan lisensi open source, tetapi memiliki lisensi komersial sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai open source murni. Salah satu contohnya MySQL, Jboss, dan masih banyak lagi," paparnya.

Julyanto menjelaskan, ada pula inisiasi awal pengembangan perangkat lunak yang dilakukan oleh komunitas dengan tujuan menggantikan fungsi software propietary. Upaya pengembangan tersebut, dalam perjalanannya berupaya meniru fitur, mekanisme, dan yang paling sering adalah antarmuka pengguna atau user interface (UI). Hal tersebut, bisa berpotensi menjadi sengketa hukum di masa mendatang, terutama setelah adanya preseden kasus antara Oracle dengan Google.

"Pelajaran yang harus kita petik dari kasus Oracle dan Google, perlunya kehati-hatian dalam mengadopsi teknologi berbasiskan open source. Sebab, tidak ada yang menginginkan migrasi dan perubahan yang sudak dilakukan akan menjadi bumerang di masa mendatang," tandasnya.

Pada dasarnya, kata Julyanto, setiap perangkat lunak memiliki risiko, tanpa kecuali pengadopsian software open source. "Perlu dilakukan langkah pendekatan dan metodologi yang baik yakni menggunakan vendor yang mumpuni, mampu mengambil alih semua tanggung jawab legal terkait penggunaan software tersebut, mampu melaksanakan proses implementasi, migrasi, dan mengoperasikan dengan baik, serta tentunya ketersediaan portofolio lengkap yang membuktikan kemampuan vendor dalam memberikan layanan yang profesional dan terpercaya," tambahnya.



Selengkapnya
 
MORE STORIES