Pelaku Bisnis Perlu Memiliki Strategi Pengelolaan Multicloud i

Ilustrasi Multicloud

Oleh : Imam Suhartadi / IS | Sabtu, 7 April 2018 | 13:00 WIB
Kategori :

Jakarta - Country Manager Indonesia, F5 Networks, Fetra Syahbana mengatakan, 2017 merupakan tahun yang luar biasa. Dia mencatat sejumlah pencapaian. Salah satunya, ketika laporan Magic Quadrant dari Gartner menyebut F5 sebagai ‘Leader’ dalam Web Application Firewalls (WAF).

Pada saat yang sama, pihaknya terus menjalin kerjasama yang baik dengan para mitra dan pelanggan dari berbagai industri.

“Hal ini kami lakukan untuk memastikan agar semua pihak dapat mengatasi berbagai tantangan dalam penyediaan aplikasi, sehingga pengguna bisa merasakan aplikasi yang lancar dan sangat membantu,” kata Fetra dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (7/4).

Tahun lalu dalam acara AWS Summit, lanjut dia, F5 menyampaikan betapa pentingnya strategi yang terpusat pada aplikasi (app-centric) dalam membuat aplikasi bisnis bekerja lebih cepat, cerdas, dan aman, baik ketika aplikasi itu terpasang dalam infrastruktur private cloud, public cloud maupun hybrid cloud (gabungan private dan hybrid cloud).

Kawasan Asean termasuk Indonesia juga merasakan kondisi yang sama. Di kawasan ini, loyalitas terhadap sebuah produk teknologi dikenal dengan istilah six second shelf life.

Hal ini berarti produk teknologi seperti aplikasi yang membutuhkan pemrosesan lebih dari enam detik akan ditinggalkan mayoritas penggunanya.

Dalam Digital Horoscopes 2020 kami telah memprediksikan bahwa mengantisipasi kebutuhan konsumen serta kapan dan apa saja yang mereka butuhkan akan menjadi hal yang biasa.

"Ini artinya, aplikasi berbasis cloud muncul sebagai sarana penting yang menawarkan kecepatan, kapasitas yang bisa terus berkembang dan fleksibilitas," ujarnya.

Dalam laporan State of Application Delivery (SOAD), F5 mencatat 89% responden menggunakan multicloud untuk bekerja. Banyak perusahaan memang mencari cara agar vendor tidak terjebak dan terpaksa bergantung pada satu penyedia layanan cloud (vendor lock-in).

Selain itu, mereka juga dapat memilih tawaran aplikasi, platform, dan infrastruktur cloud terbaik untuk menciptakan solusi bisnis terbaik.

Multicloud memungkinkan perusahaan memilih layanan terbaik di kelasnya dari setiap penyedia layanan cloud (CSP). Pada saat sama, mereka dapat mengurangi risiko downtime atau kehilangan data ketika CSP mengalami gangguan berat,” katanya.

Meski konsepnya sederhana,sambung dia, strategi bisnis multicloud memiliki tantangan tersendiri. Masalah utamanya adalah setiap cloud berbeda. Bagi mata awam semua terlihat sama.

Namun setiap cloud memiliki keunikan, baik dalam pemprograman antarmuka (interface programming) atau instrumentasi kebijakan keamanan.

“Belum lagi spesifikasi masing-masing cloud, sehingga pengetahuan dan keahlian spesifik khusus pada satu cloud tidak bisa diterapkan pada cloud lainnya. Tak heran jika penyediaan layanan cloud kerap menjadi tak terkendali dan campur aduk (multicloud sprawl),” katanya.

Untuk itu disiapkan beberapa tim yang dibagi berdasarkan struktur dan fungsinya secara organisasi. Setiap tim mendesain dan memasang aplikasinya secara terpisah, sehingga membuat arsitektur TI yang masing-masing terpisah dan berbeda satu sama lain.

Menurut dia, cara memanfaatkan kekuatan multicloud untuk membuat apps lebih cepat, aman, dan cerdas kuncinya adalah memisahkan fungsi-fungsi yang tidak bergantung pada cloud sehingga dapat dikelola dalam berbagai lingkungan cloud.

Hal lain yang harus dilakukan adalah melakukan pengaturan secara terpisah untuk beberapa layanan aplikasi yang membutuhkan keahlian khusus secara mendalam termasuk diantaranya keamanan, ketersediaan, dan pengaturan identitas (Identity Management).

“Di sinilah kami memainkan peran. F5 mengembangkan serangkaian tool yang membuat penyediaan layanan aplikasi bisa sepenuhnya dikendalikan melalui framework otomatisasi," tambahnya.

Selain itu, pengembang juga dapat memperkenalkan layanan aplikasi level korporat yang cepat, andal dan teruji dalam lingkungan apapun.

Ketika implementasi baru dalam public cloud, private cloud dan gabungan keduanya meningkat di tahun-tahun mendatang, sambung dia, multicloud adalah cara yang tepat untuk menjawab tantangan yang akan segera hadir di masa depan.

Pelaku bisnis, kata Fetra,  harus memiliki rencana dan beradaptasi di dunia baru ini. Jika tidak, mereka kembali akan menghadapi kerumitan dan beban biaya yang ingin disingkirkan oleh cloud.

Menurut dia, melakukan standarisasi pada tools, kebijakan, dan operasional di berbagai lingkungan komputasi adalah sebuah strategi penting agar segala sesuatu menjadi efisien, sederhana, dan menunjang.

“Ketika kita memasuki tahun 2018, saya memperkirakan akan terjadi lebih banyak pembicaraan seputar as a service di kawasan ini. Saya tentunya ingin mendengar pendapat mengenai tantangan tersebut. Pada acara Cloud Xchange Februari lalu, beberapa customer kami ternyata sudah mulai melakukan apa yang disebut as a service ini. Salah satu alasan mereka adalah scalability dan flexibility serta time to market,” tuturnya.



Selengkapnya
 
MORE STORIES