Cara Melindungi Privasi dan Keamanan Saat Online i

Ilustrasi dunia digital.

Oleh : Feriawan Hidayat / FER | Sabtu, 7 April 2018 | 20:44 WIB
Kategori :

Jakarta - Avast baru saja merilis hasi penelitian terbaru yang menyatakan 65 persen konsumen salah percaya bahwa mode penjelajahan incognito dan private di mesin peramban (browser) akan menganonimkan identitas mereka dan mengaburkan kebiasaan penjelajahan dari pemerintah, organisasi, dan pengiklan. Selain itu, 77 persen konsumen memiliki harapan yang keliru bahwa browser akan memperingatkan mereka terhadap potensi ancaman berbasis web, termasuk ancaman dari ekstensi yang dipasang pihak ketiga.

"Temuan ini mendukung peluncuran produk Avast Secure Browser yang baru ditingkatkan dan diganti namanya. Produk ini memberikan perlindungan canggih dari serangan siber berbasis browser dan memberikan privasi dari pengawasan online terhadap situs web yang dikunjungi pengguna," ujar Director Platform Products Avast, Matt Adkisson, dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Sabtu (7/4).

Director Platform Products Avast, Matt Adkisson.

Matt Adkisson mengatakan, survei juga mengidentifikasi fakta bahwa ekstensi web sekarang menjadi ancaman terhadap privasi dan keamanan pengguna, termasuk ekstensi yang digunakan dalam skala besar. "Meskipun lebih dari dua pertiga atau sekitar 64 persen responden mengakui mereka menggunakan ekstensi browser pihak ketiga, namun hanya 20 persen menganggap ekstensi yang mereka gunakan dapat dipercaya," jelasnya.

Menurut Matt Adkisson, ekstensi berbahaya adalah ancaman yang semakin meningkat karena penyerang meniru ekstensi yang populer untuk menayangkan iklan, merekam kata pencarian dan mencuri data pribadi. Dengan keberadaan Avast Secure Browser, aktif mengidentifikasi add-on, tautan, dan konten yang tidak aman yang mungkin mengandung malware.

"Konsumen yang menggunakan mode penjelajahan private dan incognito sedang diberi rasa aman palsu karena mode ini hanya menawarkan opsi privasi terbatas dan sama sekali tidak ada perlindungan yang nyata terhadap ancaman keamanan atau privasi," kata Matt Adkisson.

Menurutnya, konsumen belum pernah ditawari browser yang memberikan perlindungan web terdepan dan privasi online dari para ahli keamanan siber. "Kami telah mendesain ulang Avast Secure Browser secara khusus untuk menghadirkan pengalaman online yang aman dan pribadi," jelasnya.

Matt menambahkan, selain menjadi pilihan yang sederhana dan aman bagi individu yang sadar akan pentingnya privasi, produk yang baru ini lebih cepat daripada browser lain yang ada saat ini.

"Saat browser lain hanya menawarkan keamanan privasi yang terbatas, Avast Secure Browser menawarkan berbagai pengaturan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, termasuk anti-pelacakan, mode bank, mode stealth dan integrasi VPN," paparnya.

Lebih lanjut, Matt mengatakan, Avast Secure Browser juga melindungi pengguna terhadap pihak ketiga yang memantau dan menyimpan riwayat penelusuran, atau menempatkan cookie pelacakan dan penggunaan data pribadi untuk membuat profil pengguna gadungan.

Pengguna bisa merasa yakin bahwa Avast Secure Browser akan melindungi mereka dari aplikasi berbahaya yang melacak aktivitas online mereka atau secara diam-diam menggunakan personal computer (PC) mereka untuk kegiatan seperti cryptomining, hal yang menjadi sangat penting dengan munculnya cryptojacking.

"Sebanyak 81 persen konsumen yang disurvei tidak tahu apa itu cryptojacking. Namun, 94 persen menyatakan keprihatinan setelah mendapatkan penjelasan tentang ancaman tersebut," pungkasnya.

Avast Secure Browser, yang sebelumnya dikenal sebagai SafeZone Browser, saat ini sedang dibagikan sebagai pembaruan untuk semua pengguna yang ada di seluruh dunia. Browser juga akan ditawarkan kepada pengguna baru yang memenuhi syarat dari produk Avast Antivirus dan sebagai unduhan terpisah di Avast.com. Avast Secure Browser kompatibel dengan Windows 10, 8, 7. Adapun versi seluler untuk iOS dan Android akan dirilis kemudian di tahun 2018.



Selengkapnya
 
MORE STORIES