Wujudkan Lumbung Pangan Dunia 2045, Inovasi Teknologi Jadi Kunci i

DR Muhammad Syakir Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian.

Oleh : Ari Supriyanti Rikin / YUD | Senin, 9 April 2018 | 19:26 WIB
Kategori :

Bogor - Guna mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045, sentuhan teknologi dan inovasi menjadi kunci yang tidak dapat diabaikan. Inovasi dan teknologi tepat guna wajib dikuasai petani, selain meningkatkan jumlah produksi juga dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Hal itu ditegaskan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kemtan) Muhammad Syakir usai pengukuhan tiga profesor riset di lingkungan Kemtan, di Kampus Penelitian Pertanian Balitbangtan, Cimanggu, Bogor, Senin (9/4).

Menurutnya, apa yang diteliti dan diaplikasikan para profesor riset yang dikukuhkan ini menjadi bukti bahwa inovasi dan teknologi dapat mendorong kemajuan pertanian di Indonesia.

"Pertanian harus berbasis kajian inovasi teknologi, sosial dan kelembagaan. Karena pertanian modern juga harus memberikan kesejahteraan bagi petani," ucapnya.

Ia menambahkan, pendekatan teknologi tiga profesor riset ini relevan untuk mengisi swasembada yang permanen. Tahap awal difokuskan pada padi, jagung dan kedelai, di mana utamanya padi dan jagung.

Syakir mengungkapkan, padi sudah swasembada, namun laju degradasi lahan, pertumbuhan penduduk, optimalisasi kemanfaatan lahan kering memerlukan inovasi agar hasil produksi semakin optimal. Selain itu, diharapkan petani bisa sejahtera dan konsumen mendapatkan harga yang terjangkau.

Dalam kesempatan itu, tiga peneliti mumpuni dari Kemtan dikukuhkan menjadi profesor riset. Para profesor riset ini menyampaikan orasi ilmiahnya di di hadapan Majelis Pengukuhan Riset yang diketuai Pelaksana Tugas Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto.

Ketiga profesor riset itu antara lain Prof Sahari dengan orasi ilmiah di bidang budidaya dan produksi tanaman. Prof Hasil Sembiring di bidang ilmu tanah, agroklimat dan hidrologi dan Prof I Made Jana Mejaya di bidang pemuliaan dan genetika tanaman.

"Para profesor yang dikukuhkan ini secara nasional merupakan profesor riset ke 487, 488 dan 489 dari jumlah peneliti 9.669," kata Bambang Subiyanto.

Sementara itu, secara institusi tiga profesor riset ini merupakan profesor riset ke 129, 130 dan 131 dari 1.850 peneliti di lingkungan Kemtan.



Selengkapnya
 
MORE STORIES