Blockchain Indo 2018 Segera Digelar di Jakarta i

Ilustrasi konferensi dan pameran internasional tentang Blockchain.

Oleh : Feriawan Hidayat / FER | Rabu, 25 April 2018 | 22:47 WIB
Kategori :

Jakarta - Konferensi dan pameran internasional tentang blockchain, financial technology (Fintech), bisnis dan aset digital, Blockchain Indo 2018, akan segera diadakan pada tanggal 11-12 Mei 2018 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat.

Ajang konferensi dan pameran ini, mendapatkan momentum dengan banyak pembicara terkemuka dari dari seluruh dunia, yang telah memberikan konfirmasi kehadirannya seperti, co-founder Datum Gebhard Scherrer, praktisi dana investasi Ville Oehman, CEO Blossom Finance Matthew J Martin, Korean Venture crypto-fund Robert Ryu, dan ICO berbasis syariah asal Malaysia Dr Zaharuddin AR.

CEO Cryptoevent yang merupakan penyelanggara Blockchain Indo 2018, Nikolay Volosyankov mengatakan, pihaknya menerima banyak minat dari perusahaan teknologi yang kebanyakan adalah perusahaan blockchain, fintech dan digital asset dari seluruh dunia termasuk Indonesia.

"Untuk pertama kalinya dalam konferensi yang pernah kami selenggarakan, kami memiliki pembicara dan peserta pameran yang terkait dengan keuangan Islami," ujar Nikolay Volosyankov, di Jakarta, Rabu (25/4).

Ilustrasi Blockchain

Menurut Nikolay, Cryptoevent sebelumnya telah menyelenggarakan konferensi serupa di St Petersburg (Rusia), Minsk (Belarus) dan Almaty (Kazakhstan), di mana ribuan peserta telah berpartisipasi untuk mengejar isu-isu terbaru dan teknologi baru dalam ketiga bidang tersebut.

"Selain bekerja sama dengan berbagai mitra internasional, kami juga bermitra dengan perusahaan lokal yaitu dengan Global Citra Media sebagai penyelenggara acara lokal dan Halojasa sebagai mitra pemasaran lokal dan Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) yang memungkinakan para pemain global dalam teknologi blockchain untuk bertemu dan berinteraksi di Jakarta," tambahnya.

Pendiri dan CEO Digital Enterprise Indonesia (DEI), Bari Arijono mengatakan, revolusi digital di Indonesia baru pada tahap awal, banyak sektor industri yang mulai meluncurkan program transformasi digital, belum lagi industri keuangan yang sedang menjajaki kolaborasi dengan fintech.

"Kehadiran blockchain masih pada tahap awal di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi digital diperkirakan bernilai US$ 130 miliar pada tahun 2020. Pertanyaannya, akankah blockchain dapat mengubah gaya hidup orang Indonesia? Jika melihat apa yang telah diterapkan di negara lain, jawabannya sangat terlihat," kata Bari.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara terpadat ketiga di Asia dengan penetrasi internet yang tinggi dan telepon pintar di antara masyarakatnya. "Pemerintah Indonesia harus siap untuk membuat peraturan baru mengenai perkembangan teknologi digital ini, seperti bagaimana mata uang digital di masa depan dapat merespon tantangan ekonomi yang semakin berat," tambahnya.

Relationship Manager event Blockchain Indo 2018, Denis Gutnik menjelaskan, masalah regulasi dan ekonomi serta dampak terhadap lingkungan bisnis akan dibahas dalam forum. Konferensi ini, lanjut dia, diharapkan dapat memberikan masukan kepada berbagai perusahaan, pelaku industri dan peserta tentang bagaimana teknologi blockchain akan merevolusi bisnis dan meningkatkan efisiensi.

"Kami tentunya mengharapkan banyak investor dan modal ventura menghadiri konferensi ini untuk menjajaki peluang di pasar Indonesia yang sangat besar," tambahnya.

CEO Amanah Capital Group Limited sekaligus pakar keuangan di pasar Asia Tenggara, Abas A Jalil menambahkan, wilayah Asia Tenggara terutama pasar Indonesia, memiliki potensi besar untuk sektor blockchain dan fintech, khususnya dalam sektor keuangan Islam dan bisnis digital.

"Konferensi ini akan menjadi tempat pembukaan untuk kemajuan lebih lanjut dalam teknologi baru ini di Asia Tenggara terutama untuk Indonesia sendiria," kata Abas.



Selengkapnya
 
MORE STORIES