Benarkah Main Gim Berbahaya untuk Anak-Anak? i

Clevio Coder Camp menggelar "Festival Technopreneur Cilik" dalam acara Pesta Pendidikan, di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 6 Mei 2018.

Oleh : Herman / FER | Minggu, 6 Mei 2018 | 15:09 WIB
Kategori :

Jakarta - Bermain gim di perangkat mobile maupun di komputer sering dianggap sebagai kegiatan negatif yang harus dihindari anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang kemudian mengisolasi anaknya dari perangkat mobile agar tidak terpapar bahaya gim. Yang menjadi pertanyaan, benarkah gim memang harus dijauhkan dari anak-anak?

Founder Clevio Coder Camp, Aranggi Soemardjan mengatakan, dalam era teknologi digital seperti saat ini, sebetulnya sudah tidak ada lagi pilihan untuk mengisolasi anak-anak dari perangkat mobile. Meskipun di rumah anak-anak tidak diperbolehkan memegang ponsel pintar atau smartphone. Namun, saat di luar rumah tidak ada yang bisa menjamin anak-anak tak akan terpapar perangkat tersebut.

"Kita sebagai orangtua musti menyiapkan anak-anak untuk terpapar smartphone. Ini suatu hal yang sudah tidak bisa dihindari. Jadi, ketimbang melarang, lebih baik dampingi anak-anak agar tidak terpapar hal yang negatif," kata Aranggi Soemardjan, di acara Ngobrol Publik dalam rangkaian kegiatan Pesta Pendidikan 2018 yang digelar di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Minggu (6/5).

Aranggi mengilustrasikan, pemberian gawai untuk bermain gim layaknya belajar naik sepeda. Agar tidak membahayakan si anak, proses belajar sepeda harus didampingi dan dilakukan di jalanan yang bebas kendaraan bermotor, serta dilengkapi pelindung tubuh agar tidak terluka saat terjatuh.

"Hal yang sama juga berlaku saat anak kita diberi gawai. Ketika bermain gim, mereka harus didampingi, diarahkan ke hal-hal yang positif. Untuk anak-anak di bawah 13 tahun, mereka juga tidak boleh memiliki gawai sendiri. Pinjam saja dari kita agar kita juga bisa observasi apa saja yang dilakukan," tutur dia.

Hal senada juga disampaikan Founder Clevio lainnya, Fransiska Oetami. Dengan melarang anak-anak memegang gawai, justru hal tersebut akan menimbulkan rasa penasaran yang besar. Menurutnya, lebih baik dikasih saja, namun dengan skema batasan waktu.

"Kalau memang memutuskan untuk diberikan, sebaiknya dikasih batas waktu waktu lamanya bermain. Jangan dilepas begitu saja sampai anak seperti berteman dengan gawai. Jadi, kita tetap bisa menjawab rasa penasarannya, namun tetap terarah," tuturnya.

Membuat Aplikasi Gim Sendiri

Seperti permainan anak-anak lainnya, Fransiska mengatakan bermain gim sebetulnya juga mengajarkan banyak hal positif pada anak-anak. Misalnya mengajarkan anak-anak berimajinasi, berkreasi, berkompetisi, hingga tidak takut mencoba.

Mengutip pendapat profesor dari MIR, Scot Osterweil, ada empat kebebasan yang bisa didapatkan anak-anak saat bermain, termasuk bermain gim. Yaitu kebebasan bereksplorasi, bebas gagal, bebas beridentitas, dan juga bebas berusaha.

"Bermain gim memang memberikan efek dopamin. Kalau menang, dia akan merasa puas, diingat, dan bikin ketagihan. Lalu, bermain gim itu baik atau buruk? Sebetulnya sangat tergantung pada gim yang dimainkan. Kalau yang dimainkan itu baik, maka dia akan belajar hal-hal baik. Kalau yang dimainkan itu buruk, dia juga akan belajar hal buruk. Makanya penting sekali bagi orang tua untuk mengarahkan anaknya memainkan gim yang baik saja dan sesuai dengan usianya, yang aman, tidak ada unsur kekerasan dan perbuatan melanggar hukum," papar Fransiska.

Karena aplikasi yang baik untuk anak-anak masih sangat terbatas, menurut Fransiska tidak ada salahnya untuk mengajarkan anak-anak membuat aplikasi gim, atau orangtuanya sendiri yang membuatkan gim. Apalagi saat ini sudah cukup banyak sekolah atau tempat kursus coding yang membuka kelas untuk anak-anak dan orangtua.

"Lewat aplikasi gim, anak-anak yang tadinya tidak suka pelajaran tertentu bisa dibuat ketagihan dan menyukai pelajaran tersebut. Apalagi kalau anaknya dilibatkan juga untuk membuat aplikasi gim tersebut," tutur Fransiska.

Pendapat Fransiska tersebut juga sudah dibuktikan oleh Rania Fariza Kusuma, siswa kelas 5 SD yang juga belajar ilmu coding di Clevio Coder Camp. Berawal dari ketidaksukaannya terhadap mata pelajaran matematika, ia bersama Keiza Putri kemudian membuat aplikasi IQ Maths. Aplikasi dalam bentuk kuis ini berisi soal-soal matematika untuk membantu para siswa memahami pelajaran matematika dengan cara yang lebih menyenangkan.

"Dengan membuat gim sendiri yang mengajarkan kita pelajaran matematika dalam bentuk kuis, sekarang saya jadi mulai suka dengan pelajaran matematika," aku Rania.



Selengkapnya
 
MORE STORIES