Blockchain Ubah Gaya Hidup Orang Indonesia? i

Founder dan CEO Digital Enterprise Indonesia (DEI), Bari Arijono, bersama Chief Executive Officer Amana Capital Group, Abas A Jalil, di sela acara "Blockchain Indo 2018" di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (11/5).

Oleh : Feriawan Hidayat / FER | Jumat, 11 Mei 2018 | 22:25 WIB
Kategori :

Jakarta - Konferensi dan pameran internasional tentang blockchain, financial technology (Fintech), bisnis dan aset digital, Blockchain Indo 2018, resmi dibuka hari ini di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Jumat (11/5).

Konferensi yang digelar selama dua hari (11-12 Mei 2018) ini, dihadiri hampir 1.000 orang dari seluruh dunia, dengan lebih dari 30 perusahaan yang berpartisipasi sebagai sponsor.

Acara ini diselenggarakan bersama oleh Cryptoevent dan Amanah Capital Group Limited serta kemitraan lokal dengan Asosiasi Digital Enterprise Indonesia (ADEI) dan Global Citra Media.

CEO Cryptoevent yang merupakan penyelanggara Blockchain Indo 2018, Nikolay Volosyankov mengatakan, konferensi ini menghadirkan pembicara dari gabungan keahlian global dari Eropa, Amerika dan Asia termasuk dari Indonesia yang membahas tentang teknologi, aspek regulasi dari blockchain, keuangan Islam, ICO, teknologi baru dan aset digital.

"Blockchain Indo 2018 diharapkan dapat membawa ide-ide, pendapat, dan saran baru kepada otoritas tentang bagaimana teknologi baru dapat mempengaruhi ekonomi global dan negara dalam waktu dekat," kata Nikolay Volosyankov.

Menurutnya, ajang ini dapat memberikan beberapa perspektif dan masukan tentang bagaimana blockchain dan aset digital dapat diatur dengan benar di Indonesia.

Pendiri dan CEO Digital Enterprise Indonesia (DEI), Bari Arijono mengatakan, revolusi digital di Indonesia baru pada tahap awal. Meski demikian, banyak sektor industri yang mulai meluncurkan program transformasi digital, belum lagi industri keuangan yang sedang menjajaki kolaborasi dengan fintech.

"Kehadiran blockchain masih pada tahap awal di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi digital diperkirakan bernilai US$ 130 miliar pada tahun 2020. Akankah Blockchain dapat mengubah gaya hidup orang Indonesia? Jika melihat apa yang telah diterapkan di negara lain, jawabannya sangat terlihat," jelasnya.

Arijono mengatakan, Indonesia merupakan negara terpadat ketiga di Asia dengan penetrasi internet yang tinggi dan telepon pintar di tengah masyarakat.

"Pemerintah Indonesia harus siap untuk membuat peraturan baru mengenai perkembangan teknologi digital ini, seperti bagaimana mata uang digital di masa depan dapat merespon tantangan ekonomi yang semakin berat," tandasnya.

Sementara itu, CEO Amanah Capital Group Limited sekaligus pakar keuangan di pasar Asia Tenggara, Abas A Jalil, mengatakan, kawasan Asia Tenggara, terutama pasar Indonesia memiliki potensi besar untuk sektor blockchain dan fintech, khususnya dalam hal keuangan Islam dan bisnis digital.

"Konferensi ini menjadi tempat pembukaan untuk kemajuan lebih lanjut dalam teknologi baru, terutama untuk masyarakat Indonesia sendiri," tegasnya.



Selengkapnya
 
MORE STORIES