Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

10 Tahun Terakhir, Tren Produksi Beras Terus Naik

Selasa, 10 April 2018 | 22:39 WIB

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), tren produksi padi nasional dalam 10 tahun terakhir terus bergerak naik. Produksi padi pada 2007 tercatat 57,15 juta ton gabah kering giling (GKG), lalu pada 2008 menjadi 60,32 juta ton GKG, dan pada 2009 sebesar 64,39 juta ton GKG.

 

Pada 2010-2017, berturut-turut data produksi padi nasional tercatat 66,47 juta ton GKG, 65,75 juta ton GKG, 69,05 juta ton GKG, 71,28 juta ton GKG, 70,84 juta ton GKG, 75,39 juta ton GKG, 79,36 juta ton GKG, dan 81,38 juta ton GKG.

 

Dengan mengacu angka konversi gabah ke beras yang digunakan Kementan sebesar 58,13% maka produksi beras nasional pada 2007-2017 berturut-turut adalah 33,22 juta ton pada 2007, 33,06 juta ton pada 2008, 37,43 juta ton pada 2009, dan 38,64 juta ton pada 2010.

 

Adapun produksi beras nasional pada 2011 mencapai 38,22 juta ton,

pada 2012 sebanyak 40,14 juta ton, pada 2013 sebanyak 41,43 juta ton, pada 2014 sebanyak 41,18 juta ton, dan pada 2015 mencapai 43,82 juta ton. Selanjutnya pada 2016 dan 2017 masing-masing sebanyak 46,13 juta ton dan 47,30 juta ton.

 

Menurut Kuntoro, Kementan optimistis produksi padi pada 2018 sesuai target, yakni mencapai 80 juta ton GKG atau 46,50 juta ton setara beras. Sedangkan total konsumsi beras nasional tahun ini diperkirakan hanya 33,47 juta ton.

 

“Dengan produksi sebesar itu, harga beras dipastikan stabil dan tidak perlu impor. Sebab, dari produksi tahun ini, beras surplus 13,03 juta ton. Impor beras tidak lagi diperlukan karena mulai awal 2019 kami pastikan panen dapat dilaksanakan mulai bulan Desember-Januari,” papar dia.

 

Untuk mendukung target tersebut, kata Kuntoro Boga, Kementan fokus pada upaya meniadakan periode paceklik. Artinya, Kementan berupaya agar produksi pangan dapat dinikmati setiap bulannya. Hal itu dapat terwujud melalui sejumlah perbaikan dan pembangunan infrastruktur pertanian.

 

“Bukan musim panen yang bergeser. Dulu ada istilah paceklik, yakni pertanaman Agustus-Oktober biasanya rendah karena musim kering. Melalui perbaikan infrastruktur, penambahan luas tanam, dan puncak panen yang biasanya Februari-Maret dari pertanaman November-Desember, sekarang panennya bisa mulai Desember-Januari,” tutur Kuntoro. (bersambung)

 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/beras-surplus-di-masyarakat/174317

BAGIKAN