Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

El Nino Ancam Produksi Perikanan Tangkap

Kamis, 8 Oktober 2015 | 14:08 WIB
ah

JAKARTA – Fenomen El Nino dikhawatirkan mempengaruhi produksi perikanan tangkap Indonesia. Mengutip hasil pantauan satelit yang dirilis NASA, ESA, dan NOAA, El Nino yang meghampiri Indonesia tahun ini cenderung kuat, bahkan lebih kuat dibandingkan El Nino 1997.


Peneliti Kelautan, Energi, dan Lingkungan Center for Information and Development Studies (Cides) Rudi Wahyono mengatakan, saat ini, suhu air laut sudah mencapai 2,87 derajat. Angka itu diprediksi melampaui 3 derajat pada saat El Nino mencapai puncak pada kisaran akhir Oktober 2015. Bahkan, di beberapa titik ada yang mencapai 5 derajat.


"Suhu panas yang terlalu tinggi akan menyebabkan coral bleaching. Sumber makanan ikan akan berkurang. Reproduksi ikan di laut akan terganggu," kata Rudi usai diskusi publik bertajuk Bencana El Nino 2015 dan Ketahanan Pangan Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.


Untuk itu, Rudi mengatakan, pemerintah harus mendorong pengembangan coral buatan. Dengan demikian, pasokan makanan dan habitat ikan di laut terjaga. Di sisi lain, El Nino memang berdampak positif bagi Indonesia. Namun, hal itu hanya bersifat sementara. "Memang, ikan-ikan akan banyak bermigrasi ke sini. Indonesia akan mendapat pasokan ikan yang berpindah itu. Itu bisa dinikmati kalau nelayan sanggup. Ikan-ikan migrasi itu besar-besar, tuna sangat besar. Sementara, nelayan Indonesia kapalnya kecil,” ungkap dia.


Menurut dia, kapal-kapal milik nelayan Indonesia tidak akan sanggup menampung ikan-ikan itu. Alhasil, yang menikmati berkah tersebut adalah kapal-kapal asing yang memang ukurannya besar dan mesinnya sanggup menuju laut dengan kedalaman 200 meter. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) seharusnya tanggap dengan kondisi tersebut.


“Menteri Kelautan dan Perikanan sudah menandatangani MoU dengan Bank Indonesia. Seharusnya, MoU itu segera didorong supaya nelayan Indonesia agar bisa segera mendapat kredit murah untuk membeli jaring dan motor (mesin) yang lebih kuat. BI dan KKP seharusnya sudah mengarah ke sana," kata Rudi. (eme)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN