Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Produksi Gula PTPN X Terganggu La Nina

Jumat, 28 Oktober 2016 | 15:06 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

KEDIRI- Produksi gula pasir atau gula kristal putih (GKP) pada musim giling 2016 di PTPN X diprediksi turun. Hal tersebut terjadi karena dipengaruhi perubahan cuaca La Nina.


“Saat ini, produksi gula 310 ribu ton, diperkirakan turun dibanding tahun lalu yang mencapai 460 ribu ton,” kata Direktur Operasional PTPN X Tarsisius Sutaryanto ditemui di Kediri, Jawa Timur, baru-baru ini.


Tarsisius Sutaryanto yang ditemui di sela-sela pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) APTRI yang ada di lingkungan PTPN X, di Insumo Hotel, Kediri, mengatakan, saat ini iklim sangat luar biasa memengaruhi produksi tebu petani.


“Iklimnya sangat luar biasa, terutama hujan sejak awal giling sampai sekarang masih hujan. Ini istilahnya La Nina,” ujar Tarsisius.


Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTRI Abdul Wachid seperti dilansir Antara menambahkan biaya yang dipikul petani pada panen tahun ini memang lebih besar, yang dimulai dari kebun.


Biaya yang mahal tersebut, tidak serta merta diikuti dengan rendemen yang bisa maksimal. Rendemen saat ini yang dihasilkan dari tebu sekitar 6,5-7%, sementara di atas 7% saat ini sangat berat.


Pihaknya mengatakan, produksi gula memang dimungkinkan akan turun. Pada 2015, produksi gula di Indonesia bisa mencapai 2,6 juta ton, namun saat ini diprediksi hanya sekitar 2,3 juta ton, sehingga untuk memenuhi konsumsi rumah tangga masih kurang. “Kalau tahun ini tidak ada badai (badai La Nina), bisa diselesaikan 2,7 juta ton (produksi gula pasir),” katanya.


Pihaknya memang sadar jika kebutuhan gula pasir diprediksi akan kurang, namun ia meminta agar pemerintah tidak buru-buru melakukan impor. Pemerintah diminta untuk lebih bijak dalam melakukan kebijakan tersebut. Sejumlah perusahaan diberi keleluasaan untuk impor, dengan nilai yang cukup besar mulai 200 ribu ton bahkan hingga 650 ribu ton.


Ironisnya lagi, impor bukan dalam bentuk gula putih melainkan sugar rush yang nantinya diolah menjadi gula rafinasi. Pihaknya menyebut, saat ini harga gula masih standar, yaitu sekitar Rp 11-12 ribu per kilogram. Dari nominal itu, petani masih bisa mendapatkan untung, namun jika sudah di bawah harga tersebut, petani akan semakin rugi.


“Harapan kami impor disetop, tata ulang lagi yang mendapatkan izin impor. Selain itu, kami juga minta neraca perdagangan, neraca gula yang kami butuhkan, sehingga kami ikut tentukan boleh impor atau tidak. Jangan sampai impor terus, karena ganggu produksi 2017,” jelas Abdul. (tl)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN