Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Eksportir Udang Manfatkan Peluang Pasar Tiongkok

Rabu, 21 September 2011 | 13:19 WIB
Antara

JAKARTA- Selain mempertahankan ekspor ke pasar utama seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Eropa, eksportir produk perikanan juga berusaha memanfaatkan peluang untuk menggenjot ekspor udang ke Tiongkok.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Thomas Darmawan di Jakarta, Rabu (21/9), mengatakan peluang ekspor produk perikanan ke Tiongkok masih sangat besar.

"Saat kami membuat nota kesepahaman dengan pengusaha perikanan di sana tahun lalu, mereka menyatakan butuh satu juta ton ikan dan udang dari sini," kata dia.

Sementara ekspor udang Indonesia ke negara tirai bambu itu saja, menurut dia, baru sekitar 50.000 ton tahun lalu.

"Jadi peluang ke sana masih sangat besar. Tinggal bagaimana kita genjot produksi saja supaya bisa memperbanyak ekspor udang ke sana," kata dia.

Menurut Thomas, produksi udang Indonesia rata-rata sekitar 350.000 ton per tahun dan tahun ini diharapkan bisa meningkat menjadi 400.000 ton per tahun.

Sebagian udang hasil budidaya dan tangkapan dari laut tersebut diekspor ke berbagai negara, utanya AS, Jepang dan Uni Eropa.

Tahun 2010, ekspor udang ke AS tercatat 61.095 ton, Jepang 32.185 ton dan Uni Eropa sebanyak 12.191 ton.

Selama Januari-Juli 2011, ekspor komoditas itu ke AS sebanyak 40.856 ton atau sekitar 15 persen lebih tinggi dari kurun yang sama tahun lalu yang sebesar 32.236 ton.

Ekspor udang ke Uni Eropa juga tercatat naik tipis dari 4.508 ton pada Januari-Mei 2010 menjadi 4.514 ton pada periode sama tahun ini.

Sedang ekspor udang ke Jepang tercatat turun sedikit dari 13.374 ton pada Januari-Juni 2010 menjadi 12.558 pada kurun yang sama tahun 2011.

Hal itu, menurut Thomas, terjadi karena permintaan negara itu cenderung menurun setelah tsunami bulan Maret 2011. (ant/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN