Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri LHK Siti Nurbaya

Menteri LHK Siti Nurbaya

Generasi Muda Kunci Sukses Pengendalian Perubahan Iklim

Jumat, 8 Oktober 2021 | 13:52 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, generasi muda menjadi salah satu penentu keberhasilan agenda pengendalian perubahan iklim yang tengah dijalankan Indonesia.

Generasi muda dapat menjadi aktor dalam proses transisi energi dengan mendorong penggunaan sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan, membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, dan menanam pohon dalam skala besar.

Menteri Siti mengatakan itu dalam seminar daring Indonesian Youth's Determination to Reinforce Clean Energy and Climate Action, Tekad Generasi Muda Indonesia Mencegah Perubahan Iklim dan Mendukung Energi Bersih, kemarin.

Menteri Siti mengapresiasi para generasi muda yang telah berperan aktif melakukan upaya pengendalian perubahan iklim terutama dengan mengupayakan penggunaan energy bersih yang terbarukan.

“Sebagai generasi muda yang akan menjadi angkatan kerja di era transisi energi menuju net zero emission 2060, para generasi muda akan menjadi penentu di dalam mempercepat transformasi angkatan kerja dari penggunaan bahan bakar yang berbasis fosil menjadi berbasis energi baru terbarukan (EBT). Mereka menjadi salah satu penentu keberhasilan mencegah kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,50 derajat celcius,” papar Menteri Siti.

Siti menjelaskan, keberadaan generasi muda yang peduli pada pengendalian perubahan iklim lewat aksi- aksi iklim dan energi bersih perlu didorong. Generasi muda memiliki ciri berani mengemukakan pendapat, memliki kemampuan menyerap nilai dan gagasan baru, inovatif, kreatif, memiliki ide dan gagasan baru yang menarik, mobilitas yang tinggi dan dinamis, kesetiakawanan dan kepedulian sosial tinggi, peduli dan tanggap akan kejadian di sekitarnya.

Juga memiliki kemurnian idealisme, positive thinking, dan mandiri, juga suka berbagi pengetahuan akan sangat mudah untuk menggeliatkan agenda-agenda pengendalian perubahan iklim di dunia.

“Generasi muda dapat berperan aktif memberikan kontribusi positif dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui keterlibatannya pada agenda-agenda pengendalian perubahan iklim,” ungkap dia.

Indonesia mempunyai modal alam yang sangat luar biasa (natural capital super power), terlebih dalam konteks carbon and climate. Dua sektor utama yang didorong untuk menurunkan emisi GRK Indonesia adalah sektor FoLU dan sektor energi.

Terdapat enam aksi mitigasi utama di sektor FoLU, yaitu kegiatan pengurangan laju deforestasi dan degradasi hutan (REDD+), terutama pengendalian kebakaran hutan dan lahan, lalu rehabilitasi hutan terutama mangrove, pengelolaan lahan gambut dan mang rove, pengelolaan hutan lestari dan mempertahankan tutupan hutan primer, pembangunan hutan tanaman industri (HTI), serta peningkatan peran konservasi keanekaragaman hayati.

Dari sektor energi, pengurangan emisi GRK didorong dari transformasi energi, yaitu transisi menuju pengaturan dan pentahapan operasionalisasi PLTU batubara dan substitusi dengan pengembangan besar-besaran dari EBT, termasuk elaborasi potensi sumber-sumber baru EBT, seperti hidrogen dan energi gelombang dan pasang surut.

Langkah dalam program EBT salah satunya mendorong HTI untuk bioenergi, pemanfaatan jasa lingkungan air untuk teknologi mikrohidro, pemanfaatan sampah menjadi energi listrik, dan pemanfaatan panas bumi atau geothermal.

Target NDC

Menteri LHK Siti Nurbaya. Foto: BSTV
Menteri LHK Siti Nurbaya. Foto: BSTV

Agenda pengendalian perubahan iklim sangat penting bagi Indonesia guna memenuhi UUD 1945 pasal 28H yang menyatakan bahwa Negara harus menjamin kehidupan dan lingkungan yang layak bagi warga negaranya, inilah alasan utama yang mendasari komitmen Indonesia untuk perubahan iklim.

Dokumen Updated Nationally Determined Contributions  (UNDC) Indonesia yang telah disampaikan kepada Sekretariat UNFCCC menetapkan komitmen peningkatan ambisi pengurangan emisi GRK pada 2030 melalui pencapaian puncak pengurangan emisi GRK nasional pada 2030, yang mana sektor Forestry and Other Land Use (FoLU) sudah mencapai kondisi net sink carbon. Diproyeksikan, sektor FoLU akan berkontribusi hampir 60% dari total target penurunan emisi GRK yang ingin diraih Indonesia.

Komitmen tersebut disertai dengan informasi terinci dalam dokumen strategi jangka panjang, Long-term Strategies for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050).

Dokumen Updated NDC menunjukkan peningkatan komitmen Indonesia melalui program, strategi, dan tindakan dalam elemen mitigasi, adaptasi, kerangka transparansi dan dukungan implementasi, sedangkan Dokumen LTS-LCCR 2050 memberikan arahan visi berkelanjutan Indonesia untuk periode jangka panjang dan mencapai keseimbangan antara pengurangan emisi GRK di masa depan dan pembangunan ekonomi.

Merujuk laporan the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada 2011-2020, suhu permukaan global sudah meningkat rata-rata 1,09 derajat celcius, dengan kenaikan suhu di permukaan daratan 1,50 derajat celcius dan di permukaan lautan 0,89 derajat celcius.

Jika tidak dilakukan penurunan emisi GRK yang besar pada 2020-2050, suhu tersebut akan terus meningkat mencapai 2,10- 3,50 derajat celcius pada scenario intermediate.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN