Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Perubahan iklim

Ilustrasi Perubahan iklim

Pendanaan Lembaga Bank Dunia Untuk Perubahan Iklim Diperlukan

Jumat, 13 Mei 2022 | 10:45 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA,investor.id- Bank Dunia dan cabang sektor privatnya (Korporasi Keuangan Internasional) mempertahankan dukungannya terhadap infrastruktur gas fosil dan gas alam cair melalui pendanaan untuk pembangkit tenaga listrik berbahan bakar gas, saluran pipa dan pabrik regasifikasi gas alam cair di Indonesia, Bangladesh dan Pakistan, Kedua lembaga tersebut bertanggung jawab atas model energi berbasis gas yang tidak berkelanjutan dan mudah menguap di negara-negara ini.

Terdapat sebesar US$ 379 miliar infrastruktur gas baru yang direncanakan di Asia yang terancam menjadi aset terdampar, namun demikian, bangsa-bangsa di dunia mulai beralih dari bahan bakar fosil untuk memenuhi target perjanjian Paris.investasi gas yang terencana di Asia terdiri dari US$ 189 miliar pembangkit listrik berbahan bakar gas, US$ 54 miliar saluran pipa gas dan US$ 136 miliar terminal ekspor-impor gas alam cair, apabila direalisasikan dan dioperasikan dalam kapasitas penuh, seluruh infrastruktur tersebut akan memberikan dampak besar hingga 1,5 derajat celcius pemanasan global.

Studi kasus yang dirilis oleh kelompok sipil di Indonesia, Pakistan dan Bangladesh menunjukkan bagaimana Lembaga Bank Dunia mendorong ketergantungan negara terhadap gas fosil daripada menyediakan dukungan untuk proses transisi kepada energi yang berkelanjutan dan terbarukan.

Andri Prasetiyo dari Trend Asia menyebutkan perencanaan infrastruktur gas yang baru melingkupi pembangkit tenaga gas, saluran pipa, pelabuhan, terminal impor gas alam cair dan pabrik regasifikasi, hal ini akan menghambat upaya nyata transisi ke energi bersih dan terbarukan. Selain berdampak besar terhadap lingkungan, emisi metana dari proyek tersebut akan berkontribusi secara signifikan terhadap emisi gas rumah kaca Indonesia.

Anggota Alternative Law Collective di Pakistan Zain Moulvi mengatakan, Bank Dunia harus mengakui bahwa kebijakan mereka untuk mendukung infrastruktur gas fosil dan gas alam cair adalah sebuah kesalahan yang sangat merugikan.

Lembaga Bank Dunia harus menggunakan sumber dayanya yang terbatas untuk mendukung pemerintah dalam upaya akselerasi transisi dari gas fosil ke gas alam secara jangka panjang.

Editor : Ridho (dhomotivated@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN