Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Akademi Sains Malaysia. (ist)

Ilustrasi Akademi Sains Malaysia. (ist)

HASIL STUDI AKADEMI SAINS MALAYSIA

Pelestarian Alam di Asia Tenggara Bisa Hasilkan Pendapatan US$ 2,19 Triliun

Rabu, 22 Juni 2022 | 18:44 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Suatu studi terbaru yang dilakukan di seluruh wilayah Asean dari Academy of Sciences Malaysia (Akademi Sains Malaysia) mengungkapkan, Asia Tenggara memiliki alam dan keanekaragaman hayati yang dapat menarik dana sebesar US$ 2,19 triliun ke ekonomi di kawasan ini. Bahkan, angka ini bisa lebih besar lagi, jika negara-negara di kawasan ini memprioritaskan konservasi dan restorasi.

Ini merupakan laporan terlengkap dari laporan lain sejenis yang menunjukkan, pertumbuhan ekonomi dan perlindungan alam di kawasan ini saling terkait. Selain itu, konservasi bisa menjadi dasar bagi aktivitas ekonomi di kawasan yang menghasilkan kekayaan, lapangan pekerjaan, serta keamanan pangan.

Studi ini yang bertajuk The Nexus of Biodiversity Conservation and Sustainable Socioeconomic Development in Southeast Asia menyebutkan, seiring bertambahnya penduduk serta kebutuhan akan pembangunan, kawasan Asean tidak mesti mengikuti arah dari negara-negara kaya G7 yang menghabiskan modal nasional serta membangun ekonomi mereka. Alih-alih, pemimpin di kawasan ini harus memperhatikan hasil badan penelitian yang menunjukkan negara-negara dapat dan harus mencapai pertumbuhan ekonomi serta menciptakan lapangan pekerjaan melalui strategi yang melindungi alih-alih menghancurkan sumber daya alamnya.

Menurut laporan ini, keanekaragaman hayati yang kaya dan luas di Asia Tenggara, bentangan alam yang utuh, termasuk hutan tropis, hutan bakau, serta ekosistem lainnya, dapat menempatkan kawasan ini menjadi sebuah contoh tentang bagaimana memperoleh dan mengambil nilai dari alam. Sebagai rumah dari tiga negara dari 17 negara dengan keberagaman terbesar (World’s 17 megadiverse nations) dan hot spot keanekaragaman hayati, Indonesia, Malaysia, dan FIlipina, Asia Tenggara memiliki kesempatan yang unik untuk melakukan riset, teknologi, dan kolaborasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berdasarkan alam.

Studi ini menunjukkan studi kasus yang berhasil dilakukan di kawasan Asean yang mengungkapkan bagaimana perlindungan alam berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi kawasan ini serta memberi nilai tambah bagi masyarakat setempat. Contohnya, Proyek Rimba Raya Biodiversity Reserve di Indonesia, proyek REDD+ terbesar di dunia, yang berhasil menghambat deforestasi 65 ribu hektare hutan.

Kemudian, sebagai rumah bagi elang Filipina yang terancam punah, the Mt. Kitanglad Range Natural Park (MKRNP) di Filipina merupakan juga tanah asal leluhur tiga suku adat, suku Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon. Kelompok adat ini berperan aktif dalam Dewan Pengelolaan Kawasan Lindung atau Protected Area Management Board (PAMB) dari taman ini, yang berhasil mengurangi aktivitas ilegal serta pelanggaran serta perluasan ekowisata di taman ini.

Lalu, sebuah prakarsa di Tun Mustapha Park (TMP) di Malaysia, yaitu taman laut seluas 898.763 ha, terbesar di negara ini serta area lindung laut multiguna terbesar ini mencoba melestarikan keanekaragaman hayati. Selanjutnya, proyek yang berhasil di Laos dan Vietnam yang berupaya melindungi 200 ribu ha hutan

Penerbitan makalah ini dilakukan bersamaan dengan berbagai negara di seluruh dunia, termasuk semua negara anggota Asean, menegosiasikan strategi global untuk melestarikan alam melalui Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati atau United Nations Convention on Biological Diversity (CBD). Unsur inti dari strategi global yang berkembang adalah usulan berbasis sains untuk melindungi atau melestarikan sekurangnya 30% dari tanah dan samudera planet ini di tahun 2030, yang dikenal sebagai 30x30.

Makalah terbaru ini menemukan bahwa mendukung target global 30x30 global serta investasi lebih lanjut dalam perluasan dan peningkatan area perlindungan dan pelestarian di kawasan ini bisa menjadi sebuah strategi pembangunan, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi sosial yang efektif.

“Asia Tenggara memiliki penduduk yang terus bertambah, serta semakin menekan sumber daya alam yang melimpah di kawasan ini. Laporan ini mengungkapkan, kawasan Asean tidak mesti mengikuti jalur pembangunan yang membahayakan alam. Alih-alih, kita dapat membuat perlindungan alam menjadi landasan bagi keberhasilan strategi ekonomi,” ujar Helen Nair dari Academy of Sciences Malaysia, dikutip Rabu (22/6/2022).

Sementara itu, Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia sekaligus Komite Pengarah Global menyatakan, laporan ini memberi kejelasan bahwa Asia Tenggara merupakan suatu harta karun yang kaya dengan keanekaragaman hayati yang tidak ada bandingannya di atas bumi ini.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN