Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Produksi Cabai Indonesia Masih Mencukupi

Selasa, 26 Maret 2013 | 08:03 WIB
Antara

BOGOR-Peneliti Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor Dr M Syukur SP MSi mengungkapkan produksi cabai Indonesia masih mencukupi.

"Kebutuhan cabai di Indonesia 1,12 juta ton per tahun, sedangkan produksi cabai 1,3-1,9 juta ton per tahun. Secara total produksi dan permintaan itu mencukupi," kata Kepala Divisi Bibit Tanaman pada pusat kajian itu saat ditemui di Bogor, Senin (25/3).

Dr Syukur mengatakan Indonesia berada pada posisi keempat di dunia sebagai produsen cabai dengan jumlah produksi 1.332.360 ton per tahun.

Posisi ini menempatkan Indonesia setingkat lebih tinggi dari India yang hanya memproduksi 1.227.800 ton dan Amerika Serikat 918.120 ton.

Namun, posisi Indonesia masih setingkat di bawah Turki yang memproduksi sebanyak 1.986.700, dan di peringkat kedua ada Meksiko dengan produksi sebesar 2.335.560 dan China yang teratas dengan jumlah produksi 13.189.303 ton.

Menurut Syukur, bergejolaknya harga cabai yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia tidak lepas dari faktor produksi dan permintaan atau "supply-demand".

Beberapa hal yang mempengaruhi produksi dan permintaan tersebut adalah pola konsumsi, produksi, distribusi dan kebijakan pemerintah.

Berdasarkan pola konsumsi masyarakat Indonesia sebagai besar mengonsumsi cabai dalam keadaan segar (70 persen), sisanya untuk industri saos 30 persen.

Bila dibandingkan dengan beberapa negara, konsumsi cabai lebih banyak dalam bentuk olahan baik kering, bubuk ataupun saos.

Sementara itu, cabe merupakan komoditas yang tidak dapat disubstitusi atau diganti oleh komoditas lainnya.

Selain itu, tingkat konsumsi cabai terbesar ada di Jawa yakni 60 persen, sementara produsen cabai terbesar juga di Jawa.

"Karena tingkat konsumsi besar di Jawa sehingga distribusi ke daerah lainnya jadi berpengaruh," katanya.

Dari pola produksi di beberapa wilayah, produktivitas belum optimal, karena rata-rata nasional hanya 6 ton per hektare, padahal potensinya 15-20 ton per hektare.

Selain itu, pola produksi juga dipengaruhi oleh serangan organisme pengganggu tanaman pada kemarau (hama) dan saat musim hujan dilanda penyakit.

"Kendala lain yang ada di pola produksi adalah di sentra produksi sayuran, pola produksi belum baik, sementara di sentra produksi padi, cabai ditanam setelah musim padi atau pada musim kemarau," katanya.

Menurut Syukur, potensi produksi cabai di Indonesia dapat meningkat, hal ini dilihat dari luas tanaman cabai 20.46 persen atau paling tinggi dibandingkan dengan sayuran lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, lanjut Syukur, luas panen tanaman sayur di Indonesia pada periode 2007-2010, luas tanaman cabai mengalami peningkatan, dari tahun 2007 sebesar 204.048 hektare menjadi 211.566 hektare pada 2008, terus bertambah menjadi 233.904 pada tahun 2009 dan di 2010 luas menjadi 237.520 hektare.

Bila dilihat dari segi wilayah produksi cabai di pulau-pulau utama di Indonesia dari tahun 2009-2011 yang berkontribusi pada produksi cabai nasional tertinggi ada di Jawa dengan total mencapai 12.000.000 ton pada tahun 2011, disusul Sumatera sebesar 500.000 ton, Bali dan NTT sebesar kurang dari 200.000 ton, Sulawesi 150.000 ton dan Kalimantan masih di bawah 150.000 ton.

Terkait gejolak cabai yang terjadi setiap tahun, menurut Syukur, hal tersebut sudah menjadi siklus dari produk hortikultura bahwa setiap periode Desember-April terjadi kenaikan harga karena jumlah produksi yang berkurang.

Sementara harga kembali normal dengan jumlah produksi melimpah pada Juni-Juli berlanjut hingga September.

Menurut Syukur, kenaikan harga cabai yang terjadi saat ini normal, hanya saja karena imbas dari kenaikan harga bawang, maka isu merebak hingga mempengaruhi cabai.

Syukur menambahkan, jika pemerintah memahami siklus tersebut dan melakukan antisipasi sesuai dengan ritme produk hortikultura maka gejolak cabai dapat dicegah.

"Jika pemerintah memahami pola ini, produksi cabai Indonesia diyakini mampu mengalahkan Turki," ujar peraih penghargaan Anugerah Hak Kekayaan Intelektual Luar Biasa (HAKI) 2012. (ant/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN