Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Abdurrahman: Kebijakan Impor Sudah Tak Terkendali

Antara, Kamis, 13 Oktober 2011 | 12:18 WIB

JAKARTA- Anggota Komisi VI DPR Mahfudz Abdurrahman menilai kondisi perdagangan Indonesia saat ini sudah tidak terkendali lagi dengan masuknya barang impor yang sesungguhnya bisa diproduksi secara berlimpah di dalam negeri.

"Benar-benar sudah kebablasan. Kemarin beras, gula, garam dan sekarang kentang. Saya sedih melihat saudara-saudara kita para petani kentang, jauh-jauh dari Jawa Tengah datang ke Jakarta berunjukrasa untuk memperjuangkan nasib mereka yang semakin terjepit," ujarnya di Jakarta, Kamis (13/10).

Mahfudz meminta Presiden SBY agar memperhatikan kesulitan rakyatnya sebagai dampak dari kebijakan yang dibuat oleh bawahannya, yang dalam hal ini Menteri Perdagangan.

Hal ini, menurut Mahfudz, karena sudah cukup banyak kesulitan yang dihadapi pedagang karena kebijakan Kementerian Perdagangan yang sudah kebablasan membuka kran impor.

Ditegaskannya bahwa kalangan Komisi VI pasti akan meminta penjelasan dari Menteri Perdagangan terkait kebijakan impornya, karena kebijakan itu sekarang sudah benar-benar tidak terkendali lagi.

"Sebagus-bagusnya atau bahkan semurah-murahnya produk dari luar negeri, masih jauh lebih berkah dan bermanfaat kalau kita berdayakan dan gunakan produk dalam negeri yang dihasilkan oleh saudara kita sendiri karena kita berkontribusi untuk menggerakkan sektor perekonomian dalam negeri," ujar anggota DPR dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VI ini.

Anggota Komisi IV DPR RI lainnya, Rofi Munawar juga mengecam kebijakan Kemendag melakukan importasi berbagai komoditas pertanian, diantaranya impor kentang yang saat ini terjadi.

Harga jual kentang di tingkat petani, menurut dia, anjlok hingga lima puluh persen akibat gencarnya impor kentang dari China. Hal ini semakin menunjukan bahwa Kemendag lebih pro liberalisasi pangan dibandingkan mensejahterakan dan meningkatkan produktivitas petani lokal.

"Kebijakan Kemendag memberikan izin terhadap importasi kentang, membuat petani kentang terpuruk dan tidak dapat menikmati harga yang optimum. Untuk kesekian kali Kementerian Perdagangan melegalisasi impor dan ini semakin menegaskan setiap kebijakan tidak berpihak kepada petani namun kepada pasar," ujarnya.

Impor hortikultura terus terjadi terjadi selama kurun waktu hampir 5 tahun terakhir. Kentang menjadi salah satu komoditas yang ikut serta di impor dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Harga kentang lokal sebelumnya mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram, namun saat ini harga kentang lokal berkisar Rp4.000-Rp4.500 per kilogram.

Harga kentang anjlok di tingkat petani karena gencarnya impor kentang dari China. Kentang impor tersebut harganya hanya Rp2.300-Rp2.500 per kilogram. Padahal selama ini kentang menjadi komoditas hortikultura yang banyak menyumbang devisa negara.(ant/hrb)

BAGIKAN