Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (Aphi) yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) Indroyono Soesilo

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (Aphi) yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) Indroyono Soesilo

APHI: Pelaku Usaha Harus Terlibat dalam Penghitungan Potensi Penurunan Emisi

Rabu, 5 Mei 2021 | 10:56 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Kegiatan adaptasi dan mitigasi dalam perubahan iklim menjadi faktor penting dalam upaya pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, pelaku usaha sebagai non state actor juga menjadi bagian penting dalam proses ini.

Kemampuan penghitungan potensi penurunan emisi menjadi krusial dilakukan oleh pelaku usaha dalam upaya mengukur kinerja adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan, pengukuran langsung oleh masing -masing Unit Manajemen (UM) penting dilakukan seiring dengan peluang untuk dapat memanfaatkan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) baik melalui skema Results Based Payment maupun perdagangan karbon.

Ia memproyeksikan bahwa potensi penurunan emisi dari areal kerja hutan alam, hutan tanaman dan restorasi ekosistem sangatlah besar untuk dikontribusikan dalam pemenuhan pencapaian NDC Indonesia sebesar 497 juta ton CO2e pada tahun 2030.

“Insentif nilai ekonomi karbon untuk penyerapan emisi karbon di wilayah hutan alam dan hutan tanaman dapat diperoleh melalui konservasi dan tata kelola lahan gambut, penerapan  Reduced Impact Logging (RIL) dan perpanjangan waktu tanam dan panen pada hutan tanaman industri serta pengurangan areal tebangan pada hutan alam,” ujar dia dalam FGD Pelatihan Penghitungan Potensi Penurunan Emisi, di Jakarta, Rabu (5/5).

Duta Besar untuk Jerman, Arief Havas Oegroseno menyambut baik pelatihan penghitungan potensi penurunan emisi dan nilai ekonomi karbon yang dilakukan Aphi.
Penghitungan bukan saja akan membantu pemerintah dalam mencapai target NDC tetapi juga memunculkan bisnis baru di industri kehutanan dan perdagangan karbon yang saat ini mendapatkan tren dunia dan perlu direspon positif oleh Indonesia.

Ada dua potensi pasar yang bisa digarap yaitu pasar domestik dan pasar internasional, untuk Eropa sendiri masih dalam proses terus bertumbuh dan berpeluang maju sebagai leader.

Untuk Asia masih didominasi Jepang, Tiongkok dan India bahkan Australia dan Selandia Baru juga tidak mau tertinggal dalam isu perdagangan karbon.

“Saya berharap Indonesia tetap semangat menggarap potensi perdagangan karbon ini dengan menjadi pusat perdagangan karbon dengan mengacu pada Peraturan Presiden tentang Nilai Ekonomi Karbon yang sedang dalam proses penerbitan,” ujar dia.

Direktur Program GAIA, Eko Daya Buana menjelaskan pelatihan penghitungan karbon menggunakan pendekatan blended learning yang menggabungkan antara proses belajar secara mandiri dengan kelas interaktif secara langsung direncanakan dalam 4 batch.

Tujuannya untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang hebat baik di hutan alam, hutan tanaman maupun restorasi ekosistem agar dapat melakukan penghitungan penurunan emisi di areal kerjanya secara mandiri.

Kontribusi sektor kehutanan dalam pemenuhan NDC Indonesia sebesar 17,2% sangat strategis maka dari itu, pelatihan penghitungan karbon di areal kerja Unit Manajemen akan berdampak positif dalam memproyeksikan potensi penurunan emisi.
Pelatihan ini tentunya akan membahas konsep, prinsip dasar CER serta menghitung estimasi awal potensi reduksi emisi.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN