Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

APHI Tawarkan Klasterisasi Pengelolaan Hutan

Jumat, 14 Oktober 2016 | 13:58 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA-Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mengusulkan agar pengelolaan hutan di Indonesia menggunakan sistem klaster yang mengintegrasikan antara izin usaha pemanfaatan hasil hutan yang dikelola perusahaan dan izin berbasis masyarakat dengan industri. Klasterisasi tersebut dinilai dapat mengoptimalkan potensi hutan produksi di Tanah Air.


APHI memproyeksikan, klasterisasi pengelolaan hutan mampu memberikan devisa tahunan sebesar US$ 97,51 miliar dan menyerap tenaga kerja hingga 11,5 juta orang. Selain itu, berpotensi menarik investasi swasta sebesar US$ 166 miliar sampai dengan 2045.


Demikian tertuang dalam Roadmap Pembangunan Hutan Produksi 2016-2045 yang disusun APHI berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo. Dokumen tersebut akan diluncurkan secara resmi pada Musyawarah Nasional APHI yang akan digelar pada 19-20 Oktober tahun ini.


Ketua Umum APHI Sugiono mengungkapkan, peta jalan atau roadmap tersebut merupakan masukan APHI periode 2011-2016 kepada pemerintah untuk mendorong optimalisasi pengelolaan hutan produksi sebagai sumber bahan baku industri kehutanan nasional.


“Salah satu strategi untuk mengoptimalkan hutan produksi adalah dengan meningkatkan produktivitas hutan alam dan membangun hutan tanaman,” ungkap Sugiono di Jakarta, kemarin.


Langkah itu, kata dia, harus dilakukan sepanjang 2016-2045. Pada periode itu dibutuhkan 17,05 juta hektare (ha) hutan tanaman yang akan menghasilkan kayu bulat sebanyak 572 juta meter kubik per tahun. Untuk itu, dibutuhkan tambahan investasi hutan tanaman baru seluas 14,25 juta ha dengan memberikan ruang kelola secara luas kepada izin berbasis masyarakat.


“Adapun untuk hutan alam akan dilakukan pengelolaan secara optimal pada areal seluas 20 juta ha yang akan menghasilkan kayu bulat sebanyak 28 juta meter kubik per tahun,” kata Sugiono.


Dengan pendekatan klaster, jelas dia, pembangunan hutan tanaman didorong untuk terintegrasi dengan industri yang meliputi panel kayu, kayu gergajian, kayu serpih (chips), bubur kertas (pulp), kayu energi, serta hasil hutan bukan kayu.


“Pola klaster ini akan mengatasi persoalan infrastruktur yang akan sangat berat jika dibebankan kepada izin-izin berbasis masyarakat,” kata dia.


Menurut dia, roadmap APHI tersebut juga mengungkap sejumlah kebijakan yang dibutuhkan, termasuk soal penguatan status izin, insentif untuk pengelolaan hutan lestari, dan keleluasaan untuk memasarkan hasil hutan.


“Mudah-mudahan pengurus APHI periode yang akan datang dapat mendorong implementasi roadmap tersebut untuk menempatkan usaha kehutanan sebagai sektor unggulan strategis dan membangkitkan kembali peran sektor kehutanan terhadap perekonomian nasional,” kata Sugiono. (eme)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN