Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dahlan Iskan Undang Ahli Tanaman Cabai IPB

Selasa, 16 Juli 2013 | 15:32 WIB
Antara

JAKARTA - Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan prihatin harga cabai melonjak hingga mencapai sekitar Rp100.000 per kilogram di sejumlah wilayah sehingga mendorong dirinya mengundang ahli tanaman cabai dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Saya mengundang ahli cabai untuk mengetahui kenapa harga cabai sedemikian tinggi bahkan melebihi harga daging sapi. Saya juga ingin mengetahui detail budi daya cabai, mulai penanaman hingga masa panen," kata Dahlan di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.

Di ruang kerjanya disaksikan para jurnalis, Dahlan menerima langsung Direktur Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB Profesor Sobir dan ahli pemuliaan tanaman cabai M Syukur. "Saya mau banyak belajar tentang cabai, karena agak memalukan rasanya cabai bisa memicu inflasi," ujar Dahlan.

Pada kesempatan itu M Syukur memaparkan berbagai aspek soal tanaman cabai seperti tingkat kepedasan, waktu yang baik menanam cabai, pemanfaatan teknologi, ketersediaan lahan petani, hingga manajemen pascapanen cabai.

Setidaknya terdapat tiga pendekatan dalam budi daya cabai, yaitu penggunaan teknologi, penanaman terintegrasi, teknis penanaman termasuk besaran investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan cabai per hektare.

Pertemuan berlangsung sekitar 45 menit tersebut membuat pemikiran Dahlan terbuka yang memungkinkan akan melibatkan BUMN untuk mengembangkan cabai merah dan cabai rawit. "Kita tidak ingin harga cabai jatuh yang mengakibatkan petani rugi, tapi kita juga berkepentingan harga cabai tidak melonjak gila-gilaan seperti sekarang ini," tegasnya.

Dahlan pun menambahkan, penanaman cabai bisa dilakukan dengan pola kemitraan dengan petani atau disandingkan dalam program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K).

"Melalui GP3K, budi daya cabai bisa dikembangkan yang didukung oleh lahan BUMN yang luas di sejumlah wilayah, termasuk pengembangan melalui penggunaan teknologi sehingga cabai tidak hanya dipasok ke pasar tetapi juga bisa memenuhi kebutuhan industri," kata Dahlan.

Dari sisi investasi atau ketersediaan lahan tidak masalah, tetapi yang penting adalah penanganan yang berkelanjutan, penggunaan teknologi, hingga mengolah menjadi cabai pasta maupun cabai kering. (gor/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN