Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

DHN Perkirakan Cabai Naik Sepanjang 2014

Kamis, 27 Februari 2014 | 09:10 WIB
Anis Rifatul Ummah

JAKARTA-Ketua Dewan Hortikultura Nasional (DHN) Benny Kusbini memperkirakan harga cabai akan naik sepanjang 2014 akibat kurangnya pasokan dari sentra produksi.

Seusai diskusi publik bertajuk Pandangan Parpol tentang Liberalisasi Impor Hortikultura: Stop atau Lanjutkan? di Jakarta, Rabu Benny menyatakan salah satu sentra penghasil cabai yakni Kecamatan Kepung Kabupatan Kediri Jawa Timur mengalami gagal panen akibat erupsi Gunung Kelud sehingga mengancam pasokan cabai nasional.

Selain itu, Indonesia yang saat ini sedang memasuki musim penghujan serta beberapa daerah terkena banjir menyebabkan produksi cabai mengalami gagal panen.

"Saat ini hingga Bulan Mei merupakan masa panen cabai, tetapi hasil panen tercatat hanya mencapai 30 persen dari target. Sementara setelah Bulan Mei, cuaca akan memasuki musim kemarau sehingga akan menurunkan produksi cabai," katanya seperti dikutip Antara.

Menurut dia, dengan produksi cabai dalam negeri yang merosot kebijakan impor cabai harus dibuka.

Benny memperkirakan Indonesia bisa mengimpor cabai dari Vietnam dan Thailand.

Menurut dia, pemerintah harus bergegas mengimpor cabai dari kedua negara itu, jika terlambat produksi cabai Vietnam bisa diserap China yang mengalami gagal panen.

"Kalau sudah keduluan China, sehingga produksi Vietnam kosong satu-satunya harapan tinggal Thailand," kata dia.

Kementerian Perdagangan bersama Kementerian Pertanian, lanjutnya, harus duduk bersama guna menentukan jumlah kebutuhan cabai nasional dan jumlah produksi nasional.

"Dari situ, baru ditentukan berapa alokasi untuk impor," katanya.(*/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN