Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jagung di dalam gudang. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana

Jagung di dalam gudang. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana

Ekspor Tanaman Pangan Segar Capai Rp 6 Triliun

Damiana Simanjuntak, Senin, 12 Agustus 2019 | 23:14 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, nilai ekspor 7 komoditas utama tanaman pangan segar sejak tahun 2014 hingga bulan Juni 2019 mencapai US$ 436.132.178 atau setara Rp 6 triliun. Angka itu mencakup nilai ekspor untuk jagung, kacang hijau, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, beras, dan ubi kayu.

Nilai sebesar US$ 12.081,95 atau setara Rp 170 miliar  itu diantaranya adalah nilai ekspor 10 komoditas tanaman pangan segar sepanjang bulan Januari-Juni 2019. Mencakup, beras, beras ketan, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, talas, dan tanaman pangan lainnya.

Secara volume, total ekspor komoditas pangan segar sepanjang tahun 2014 hingga bulan Juni 2019 tercatat mencapai 874.440 ton. Dimana, 14.924,29 ton diantaranya adalah volume ekspor sepanjang bulan Januari-Juni 2019.

"Ini kan baru sampai bulan Juni, tentu akan terus bertambah. Sampai akhir tahun 2019, bisa dua kali lipatnya," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan Suwandi saat jumpa pers tentang Mendorong Ekspor dan Mengendalikan Ekspor Tanaman Pangan di Jakarta, Senin (12/8).

Sepanjang tahun 2014 hingga bulan Juni 2019, ekspor komoditas tanaman pangan segar secara volume didominasi oleh jagung dengan porsi 64,34% mencapai total 562.598 ton senilai US$ 149.675.000. Namun, secara nilai didominasi oleh kacang hijau dengan porsi volume 19,82% mencapai 173.306 ton, senilai US$ 171.631.000.

Pada semester I tahun 2019, volume ekspor komoditas tanaman pangan segar didominasi oleh ubi jalar. Dengan volume mencapai 4.856,44 ton, disusul kacang hijau dengan volume mencapai 3.378,63 ton.

"Kita akan terus mendorong ekspor. Tadi kami sudah bertemu dengan para eksportir dan produsen benih. Membahas konsep-konsep memacu ekspor komoditas tanaman pangan. Dimana, untuk mendorong ekspor itu, kita harus tahu, kebutuhan dan selera konsumen. Pasar sudah berkembang. Dalam hal ini, benih menjadi fondasi pembangunan pertanian. Yang mempengaruhi produktivitas. Karena itu, salah satu konsep kita adalah menjembatani petani dengan produsen benih, supaya terbuka aksesnya, by name by address," kata Suwandi.

Konsep berikutnya, kata dia, mendorong swasta membangun gudang-gudang yang berperan sebagai hub komoditas pertanian. Gudang-gudang itu, kata dia, dibangun lengkap dengan berbagai fasilitas, bahkan pelayanan karantina.

"Dengan begitu, ada kemudahan ekspor karena tidak perlu lagi harus diperiksa di pelabuhan. Gudang-gudang ini dibangun swasta, menjadi hub untuk daerah-daerah sentra produksi. Seperti di Belawan (Sumatera Utara), Makassar (Sulawesi Selatan), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Sidoarjo (Jawa Timur), dan Jakarta. Karena kita kan negara kepulauan, jadi harus ada pergudangan pangan yang besar," kata Suwandi

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Amerika II (Amerika Selatan dan Timur Karibia) Ditjen Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Darianto Harsono menambahkan, pemerintah terus meningkatkan pengetahuan pasar dan membuka akses ekspor produk-produk pertanian Indonesia ke Amerika Selatan dan Karibia.

"Apalagi, setelah berlakunya Indonesia-Chile CEPA. Ini menjadi peluang bagi kita memacu ekspor produk pertanian. Apalagi, Chile menjadi negara mitra kita yang terbesar ketiga di wilayah Amerika Selatan, setelah Brasil dan Argentina. Sejumlah produk pertanian kita sudah menikmati bea masuk (BM) nol persen ke Chile, seperti sawit, teh, kopi, pisang, tuna, dan lobster. Sementara itu, dalam pertemuan antara Presiden RI dengan Presiden Argentina kemarin, ada komitmen membuka ekspor bagi buah tropis kita ke Argentina," kata Darianto.

Darianto mengaku, pihaknya bersama kementerian lain dan Kedutaan Besar Indonesia di negara-negara tujuan ekspor selalu berkoordinasi untuk meningkatkan akses pasar bagi produk Indonesia, termasuk hasil pertanian.

"Ketika di negara itu ada permintaan, pemerintahnya lalu berkoordinasi dengan importir di negara itu. Sementara, perwakilan pemerintah Indonesia berkoordinasi dengan eksportir di sini," kata Darianto.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA