Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Gapki: Pacu Penyerapan Sawit Domestik Atasi Proteksi Eropa

TL, Kamis, 25 April 2019 | 22:12 WIB

PALEMBANG – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Sumatera Selatan mengingatkan proteksi Uni Eropa (UE) terhadap produk minyak sawit asal Indonesia seharusnya menjadi pelecut semangat untuk meningkatkan penyerapan dalam negeri. Penyerapan sawit domestik di antaranya dengan terus mendorong program biodiesel, seperti B20.

Ketua Gapki Provinsi Sumatera Selatan Harry Hartanto di Palembang, Selasa (23/4), mengatakan, Indonesia sudah membuat produk bahan bakar solar B20 yang harus terus didorong hingga mencapai B100.

"Di tengah situasi ini kita harus tetap optimis, apalagi sudah ada B20 yang cukup lumayan mendorong penyerapan dalam negeri. Kita jangan takut," kata dia seperti dilansir Antara.

Namun demikian, pemerintah juga tidak boleh mendiamkan proteksi yang dilakukan negara-negara Eropa itu. Karena hal itu merupakan perang dagang di mana negara-negara Eropa berkeinginan melindungi produk mereka sendiri. Bahkan, hal itu merupakan wujud nyata bahwa Uni Eropa tidak ingin ekonomi Indonesia bangkit karena menjadi penghasil minyak sawit terbesar di dunia.

Untuk itu, Gapki mendukung langkah yang diambil Pemerintah Indonesia bersama sejumlah negara di Asean menyiapkan sikap bersama untuk merespons kebijakan proteksionisme Uni Eropa, yang dianggap diskriminatif terhadap produk sawit dan beras asal Asia Tenggara.

Apalagi, menilai kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionisme ini terus menguat di kelompok Uni Eropa. Negara-negara Asean sepakat memberkan instruksi kepada perwakilannya di Jenewa, Swiss, untuk mengeluarkan pernyataan keras kepada Uni Eropa (UE) atas nama kebersamaan Asean pada pertemuan 25th Asean Economic Minister’s Retreat (AEM Retreat) di Phuket, Thailand, Senin (22/4).

Data Kemendag menunjukkan, Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO ke Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,50 juta ton sedangkan kebutuhan CPO Eropa 6,30 juta ton, sedangkan ekspor Malaysia di tempat kedua 1,50 juta ton.

Harry menjelaskan, potensi Indonesia dalam menghasilkan minyak nabati ini menjadi ancaman sendiri negaranegara di Eropa karena mampu menjadi penyuplai utama kebutuhan. Eropa sendiri tidak bisa berbuat banyak karena perkebunan sawit jauh memiliki keunggulan dibandingkan biji matahari dan kedelai.

Dalam 1 hektare (ha) perkebunan sawit bisa menghasilkan 8 ton minyak sawit per tahun, sementara untuk biji matahari hanya 0,30 ton per tahun. Indonesia memang sangat terusik dengan gencarnya kampanye hitam yang terus dilakukan, mengingat komoditas itu memberikan kontribusi nilai ekspor sebesar Rp 240 triliun setiap tahun.  

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN