Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyampaikan paparan tentang perkembangan industri sawit di acara Buka Puasa Bersama Gapki di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyampaikan paparan tentang perkembangan industri sawit di acara Buka Puasa Bersama Gapki di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Gapki Tetap Optimistis di Tengah Pusaran Badai

Gora Kunjana, Rabu, 15 Mei 2019 | 21:44 WIB

JAKARTA- Industri sawit Indonesia pada triwulan pertama 2019, menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam negeri, luar negeri dan sentimen pasar.

Awal tahun industri sawit digoyang oleh Uni Eropa dengan kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II) yang akan menerapkan kebijakan penghapusan penggunaan biodiesel berbasis sawit karena minyak sawit digolongkan sebagai berisiko tinggi terhadap deforestasi (ILUC – Indirect Land Used Change) sedangkan minyak nabati lain digolongkan berisiko rendah.

Di dalam negeri lembaga swadaya masyarakat (LSM) terus menekan industri untuk keterbukaan informasi HGU. Dari pasar, industri dibayangi kekhawatiran harga CPO global yang trendnya terus menurun.

“Di tengah pusaran badai seperti itu, Gapki tetap optimistis. Meskipun dalam kekalutan, industri ini terus berperan dalam menambal neraca perdagangan Indonesia yang minus dengan kinerja ekspornya,” kata Ketua Umum Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Joko Supriyono dalam paparannya di acara Buka Puasa Bersama Gapki di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menggelar acara Buka Puasa Bersama di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menggelar acara Buka Puasa Bersama di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

 

Dijelaskan Joko, pada triwulan pertama 2019, kinerja ekspor minyak sawit secara keseluruhan (Biodiesel, Oleochemical, CPO dan produk turunannya) meningkat sekitar 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau dari 7,84 juta ton triwulan I 2018 meningkat menjadi 9,1 juta ton di triwulan I 2019.

“Dengan kinerja ini, artinya ekspor minyak sawit Indonesia masih tetap tumbuh meskipun masih di bawah harapan,” ujar Joko Supriyono.

Pada Maret 2019, lanjut dia, kinerja ekspor minyak sawit secara keseluruhan (Biodiesel, Oleochemical, CPO dan produk turunannya) membukukan peningkatan 3% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 2,88 juta ton meningkat menjadi 2,96 juta. Sementara ekspor khusus CPO dan produk turunannya hanya meningkat sangat tipis yaitu 2,77 juta ton di Februari sedikit terkerek menjadi 2,78 juta ton di Maret.

Sentimen RED II Uni Eropa, kata Joko, setidaknya telah ikut menggerus kinerja ekspor Indonesia, selain itu lesunya perekonomian di negara tujuan utama ekspor khususnya India berdampak sangat signifikan pada permintaan minyak sawit India. Perang dagang Amerika Serikat dan China yang tak kunjung usai, mempengaruhi perdagangan kedelai kedua negara yang berujung pada menumpuknya stok kedelai di AS.

Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih memberikan sambutan dalam acara Buka Puasa Bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih memberikan sambutan dalam acara Buka Puasa Bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

 

Disebutkan Joko, Maret ini ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke India membukukan penurunan yang tajam yaitu 62% atau dari 516,53 ribu ton di Februari meluncur bebas ke 194,41 ribu ton di Maret.

“Perlambatan pertumbuhan ekonomi India yang hampir memasuki ambang krisis menyebabkan berkurangnya permintaan minyak sawit India baik dari Indonesia maupun Malaysia. Penurunan permintaan juga diikuti negara Afrika 38%, Amerika Serikat 10%, China 4% dan Uni Eropa 2%,” katanya.

Namun di sisi lain, ungkap Joko, secara mengejutkan ekspor minyak sawit ke negara lain-lain meningkat 60% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang cukup signifikan datang dari Asia khususnya Korea Selatan, Jepang dan Malaysia.

Acara Buka Puasa Bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Acara Buka Puasa Bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

 

Sementara itu, penyerapan Biodiesel di dalam negeri, sepanjang Maret ini mencapai lebih dari 527 ribu ton atau turun 19% dibandingkan dengan bulan Februari lalu yang mencapai 648 ribu ton. Turunnya penyerapan biodiesel disinyalir Gapki karena keterlambatan permintaan dari Pertamina sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat.

Dari sisi harga, sepanjang Maret harga CPO global bergerak di kisaran US$ 510 – US$ 550 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 528,4 per metrik ton. Harga rata-rata ini tergerus 5% dibandingkan harga rata-rata Februari US$ 556,5 per metrik ton. “Pada Maret ini produksi minyak sawit membukukan peningkatan 11% atau dari 3,88 juta ton di Februari meningkat menjadi 4,31 juta ton di Maret,” pungkas Joko Supriyono.  

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN