Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil  Ketua DPR Rachmat  Rachmat Gobel, bersama Bupati  Sumba Tengah Paulus SK Limu, Direktur Bulog Purnomo dan lain-lain saat meninjau food estate Sumba Tengah, Senin (5/4/2021).. Foto: BeritasatuPhoto/Primus Dorimulu

Wakil Ketua DPR Rachmat Rachmat Gobel, bersama Bupati Sumba Tengah Paulus SK Limu, Direktur Bulog Purnomo dan lain-lain saat meninjau food estate Sumba Tengah, Senin (5/4/2021).. Foto: BeritasatuPhoto/Primus Dorimulu

Gobel Dorong Food Estate Sumba Tengah Gunakan Pupuk Nonsubsidi

Selasa, 6 April 2021 | 08:06 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

SUMBA BARAT DAYA, investor.id –  Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel mendorong agar pengembangan lumbung pangan (food estate) Sumba Tengah, di NTT, menggunakan pupuk nonsubsidi sehingga produktivitas tanaman padi di lahan tersebut bisa melonjak menjadi 10 ton per ha atau dua kali lipat dari saat ini yang hanya 3-4 ton per ha.

“Tadi saya diskusi dengan Pak Bupati, saya tanya berapa hasil 1 ha dalam food estate ini, saya dengar 3-4 ton per ha, saya sarankan bagaimana seandainya ke depan membangun visi lebih besar dengan membangun kemandirian pertanian dengan kemandirian petani itu sendiri yaitu mengggunakan pupuk nonsubsidi, dari demplot yang saya lakukan itu dua kali lipat hasilnya, 10 ton per ha,” ujar Gobel saat mengunjungi food estate Sumba Tengah. saat bertemu petani Sumba Barat Daya, Senin (5/4).

Pada kesempatan yang sama, Rachmat melakukan panen padi dengan pupuk nonsubsidi.

 

Hadir pada panen padi nonsubsidi di Sumba Barat Daya ini anggota DPR dariPartai Nasdem Ratu Wulla Talu,Julie Sutrisno Laiskodat, danYakobus Jacki Uly. Hadir pula Direktur Keuang an dan UmumPupuk Kaltim Qomaruzzamandan D irektur Human CapitalBulog Purnomo Sinar Hadi

Dengan produktivitas 10 ton per ha maka food estate Sumba Tengah harus dikembangkan dalam skala industri. Paling awal adalah dengan mengembangkan industri pengolahan beras, termasuk di dalamnya menyediakan fasilitas pengeringan yang modern.

Untuk menghasilkan beras berkualitas maka setelah panen padi tidak boleh didiamkan saja, sebelum lima jam usai dipanen maka padi harus langsung dikeringkan.

Selama ini, pengeringan padi di Sumba Tengah masih dilakukan secara tradisional di hamparan.

“Industri pengolahan ini harus yang zero waste, misalnya menghasilkan dedak yang bisa digunakan untuk keperluan lain atau bahan baku industri lainnya, ini harus didorong sampai sana,” kata Gobel.

Food estate Sumba Tengah. Foto: BeritasatuPhoto/Primus Dorimulu
Food estate Sumba Tengah. Foto: BeritasatuPhoto/Primus Dorimulu

Rachmat Gobel juga mendorong agar petani di food estate Sumba Tengah membangun sistem koperasi dengan petani itu sendiri sebagai anggotanya. Koperasi itulah yang menyiapkan pupuk dan bibit serta membeli hasil panen petani (off taker) dan tentunya kerja sama dengan Bulog tetap diperlukansebagai off taker terakhir.

“Kita akan kembangkan ini, bisa gak dengan Pak Bupati kita kerja sama menaikkan produktivitas hasil pertanian. Tentu nantinya ada juga kerja sama dengan Bulog, kita harus buat produk beras premium, jadi nanti di food estate ini dikembangkan pertanian terintegrasi. Kenapa kita dorong ini karena ini bisa memecahkan soal kemiskinan, ini bisa mengeluarkan NTT dari kemiskinan,” kata dia.

Selain di Gorontalo, Rachmat Gobel telah mengembangkan demplot atau proyek percontohan pertanian nonsubsidi di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, bahkan dalam waktu dekat akan memasuki masa panen raya.

Di Gorontalo, pengembangan pertanian nonsubsidi dengan penggunaan pupuk nonsubsidi bahkan telah sukses dilakukan dengan produktivitas tanaman 10 ton per ha, selanjutnya akan terus diperluas lagi, baik pada lahan kering untuk jagung maupun lahan basah untuk padi.

Wakil  Ketua DPR Rachmat  Rachmat Gobel, bersama Bupati  Sumba Tengah Paulus SK Limu, Direktur Bulog Purnomo dan lain-lain saat meninjau food estate Sumba Tengah, Senin (5/4/2021).. Foto: BeritasatuPhoto/Primus Dorimulu
Wakil Ketua DPR Rachmat Rachmat Gobel, bersama Bupati Sumba Tengah Paulus SK Limu, Direktur Bulog Purnomo dan lain-lain saat meninjau food estate Sumba Tengah, Senin (5/4/2021).. Foto: BeritasatuPhoto/Primus Dorimulu

“Pupuk nonsubsidi itu adalah pupuk hasil PT Pupuk Indonesia, petani yang telah mencobanya mendapatkan hasil sangat baik, bahkan bisa menjauhkan hama. Dalam konsep ini tidak ada uang pemerintah, jadi nantinya PT Pupuk Indonesia lebih sehat, pemerintah bisa mengurangi anggaran untuk subsidi, hasil produksi para petani juga baik,” jelas dia.

Food estate Sumba Tengah terbagi lima zona, yakni zona 1 di Desa Umbu Pabal, zona 2 di Desa Umbu Pabal Selatan, zona 3 di Desa Elu, zona 4 di Desa Makatakeri, dan zona 5 di Desa Tanamodu, Kecamatan Katikutana Selatan.

Respons Positif

 

Di tempat yang sama, Bupati Sumba Tengah Paulus SK Limu menyatakan, luas food estate Sumba Tengah saat ini mencapai 5.000 ha dan akan ditingkatkan menjadi 10 ribu ha. Tanpa konsep food estate, pengembangan padi di Sumba Tengah biasanya hanya 3.000 ha.

Food estate ini akan mencapai 10 ribu ha. Dengan diperluas menjadi 10 ribu ha, nantinya 5.600 ha untuk padi dan 4.400 ha untuk jagung,” kata Paulus.

Pertanian di Sumba Tengah selama ini masih meng andalkan irigasi tadah hujan, namun dengan dibangunnya sejumlah bendungan di NTT di era Presiden Jokowi diharapkan panen di Sumba Tengah tidak hanya sekali dalam setahun, bisa berswasembada pangan khususnya beras dan tidak meng andalkan beras impor.

Paulus merespons positif ajakan Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel untuk mengembangkan kemandirian pertanian dengan pupuk nonsubsidi, pengembangan koperasi, dan pembangunan food estate dengan konsep terintegrasi.

Selama ini, Sumba Tengah selain per tanian dengan komoditas padi dan jagung dengan merupakan lumbung ternak sapi bersama Sumba Barat.

“Pengembangan pertanian terintegrasi sangat memungkinkan, baik Sumba Tengah maupun Sumba Barat selama ini memang merupakan lumbung ternak, jadi nanti akan sangat bagus selain ada pertanian juga ada peternakan, terintegrasi,” papar dia.

Khusus pengembangan kemandirian pertanian, kata Paulus, hal itu juga sangat baik karena hal itu akan memutus ketergantungan petani akan pupuk bersubsidi dan petani menjadi lebih mandiri.

“Kami setuju karena memang tujuan nya untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan pupuk bersubsidi yang hanya 4-6 ton per ha, tidak sampai 10 ton per ha, kami setuju apabila memang ada kerja sama seperti ini. Apabila sarana tentang pembentukan koperasi agar petani bisa mandiri,” ujar dia.

Paulus juga mengharapkan peran Bulog benar-benar terealisasi dalam menyerap gabah petani di Sumba Tengah. Hal itu menanggapi Direktur Human Capital Bulog Purnomo Sinar Hadi yang menyatakan siap menjadi off taker bagi gabah produksi petani di Sumba Tengah, NTT.

“Selama ini, kami menjadi off taker melalui kerja sama dengan para mitra dan petani langsung. Tapi kami minta tolong jaga kualitasnya. Saat ini belum menyerap karena di Sumba Tengah baru akan panen akhir Mei nanti,” ujar dia. (dho/tl)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN