Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebutuhan Bawang Putih Impor

Kebutuhan Bawang Putih Impor

Harga Melonjak, Pedagang Harap Ada Relaksasi Impor Bawang Putih

Senin, 3 Mei 2021 | 16:54 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti masalah importasi pangan khususnya Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan Surat Persetujuan Impor (SPI). Kondisi dilatari oleh kenaikan harga komoditi impor seperti gula dan bawang putih saat menjelang Lebaran di setiap tahun

Supaya masalah tersebut tidak terus menerus terulang, KPK menggelar rapat pendahuluan (kick off meeting) terkait kajian yang akan dilakukan KPK dalam hal tata kelola impor komoditas hortikultura beberapa waktu lalu.

Menurut Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron, kick off meeting pengkajian importasi hortikuktura dan 7 komoditas strategis sangat penting karena importasi tersebut melibatkan Kementerian Pertanian untuk urusan RIPH dan Kementerian Perdagangan urusan SPI. Menurutnya, dalam banyak hal proses importasi telah beberapa kali menimbulkan kasus.

Sementara itu, Forum Komunikasi Pengusaha dan Pedagang Pasar (FKP3), Aminullah, menyambut positif jika KPK akan melakukan pengkajian kembali mengenai RIPH dan SPI. Karena kedua aturan tersebut sudah lama dirasakan menjadi sumber masalah kelangkaan dan kenaikan harga komoditi pangan, khususnya bawang putih.

Aminullah menyarankan, baiknya KPK melihat kembali kebijakan Menteri Perdagangan yang lalu (Agus Suparman) saat menerbitkan relaksasi impor bawang putih untuk meredam lonjakan harga yang sempat melejit hingga Rp 60.000 per kg pada awal Februari 2020.

"Tapi sayangnya relaksasi tersebut hanya bersifat sementara, berlaku sampai 31 Mei 2020," kata Aminullah kepada media, Senin (3/5/2021).

Ketua FKP3 ini mengatakan, ketika pemberlakuan relaksasi, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Produk Pangan Strategis (PIHPS), harga bawang putih kembali berangsur turun sejak April 2020. Bahkan di beberapa daerah harga turun sampai Rp. 20.000 per kg bahkan di tingkat importir hanya Rp. 7.500 per kg. Pada saat itu bawang putih memberikan kontribusi signifikan penurunan inflasi di sektor pangan.

"Jadi, selama ini terbukti yang menjadi akar masalahnya adalah regulasi itu sendiri. Tidak ada RIPH dan SPI harga normal, diberlakukan RIPH dan SPI, harga malah naik," tegas Aminullah.

Sebagai informasi, untuk saat ini, jelas Aminullah, harga bawang putih diperkirakan mulai naik. Harga sampai pelabuhan Indonesia di angka US$ 830 per ton. Jika dihitung modalnya Rp.830 × Rp.14.600 (kurs dolar) + Rp.1200 per kg (custom clearance dan truk sampai gudang distributor) jadi jatuhnya Rp13.318.000 per ton.

"Jadi harga Per kg Rp.13.318. Namun harga ditingkat importir hari ini  Rp.18.000. Dengan demikian margin importir Rp. 4.682 per kg. Keuntungan yang luar biasa di tengah sulitnya iklim berusaha sekarang. Kalau distributor protes margin terlalu tebal pasti jawabannya ada biaya tanam, dan lain-lain," tutupnya.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : PR

BAGIKAN