Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Susi Pudjiastuti.

Susi Pudjiastuti.

Indonesia Perlu Penataaan Logistik Perikanan

Damiana Simanjuntak, Rabu, 9 Oktober 2019 | 20:08 WIB

JAKARTA, investor.id - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, perbaikan sistem logistik dan distribusi dari sentra perikanan ke luar wilayah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Apalagi jumlah penduduk terbanyak dan permintaan ikan tertinggi ada di pulau Jawa. Padahal, imbuh Susi, sumber pasokan ikan terbanyak ada di sentra penangkapan ikan di kawasan Indonesia Timur dan Barat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan, konsumsi ikan nasional tahun 2020 mencapai 56,39 kilogram (kg) per kapita.

"Tol laut masih kurang efektif. Kalau angkutan murah itu memang masih menjadi pekerjaan rumah. Harga ikan di sentra penangkapan ikan saat ini sudah sangat murah, rata-rata ada yang Rp 6 ribu per kilogram (kg) untuk ikan tongkol kecil. Sistem distribusi memang masih menjadi kendala," kata Susi saat jumpa pers Penyerahan Penghargaan Penegakan Hukum bidang Kelautan dan Perikanan di Jakarta, Rabu (9/10).

Untuk itu, Susi mengaku berencana melakukan kajian bersama Kementerian Perhubungan untuk mengupayakan sistem logistik yang cepat dan murah dengan frekuensi pengiriman tinggi.

"Perbaikan sistem transportasi dan logistik, serta storage harus dilakukan. Kalau bisa diselesaikan, seharusnya harga ikan di sentra dan di pasar luar sentra paling hanya beda 20%," kata Susi.

Secara terpisah, Wakil Rektor IPB bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Drajat Martianto mengatakan, harga ikan saat ini masih terbilang mahal, jika dibandingkan sumber protein hewani lainnya. Untuk memacu peningkatan konsumsi ikan di dalam negeri, kata dia, harga ikan harus lebih terjangkau.

"Ikan segar paling murah saat ini harganya sekitar Rp 35-37 ribu per kilogram, dibandingkan telur hanya Rp 22 ribu per kilogram bisa dapat 16 butir. Daging ayam 1 kilogram hanya sekitar Rp 30 ribu," kata Drajat saat konferensi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Global (SDGs Annual Conference) di Jakarta, Selasa (8/10).

budidaya ikan patin
Budidaya ikan. Foto Ilustrasi: IST

Harga ikan yang tinggi itu, kata dia, diantaranya dipengaruhi oleh keterbatasan rantai pasok berpendingin, dari proses penangkapan hingga ke tangan konsumen.

"Untuk itu, perlu dilakukan beberapa hal sebagai strategi mendekatkan pasokan ke konsumen. Mulai dari pengembangan budidaya perikanan, karena lahan potensial masih besar. Edukasi konsumsi tidak hanya terpaku pada ikan segar, tapi juga produk olahan. Mengkampanyekan bahwa makan ikan juga bisa prestisius. Karena, selama ini, daging sudah menjadi salah satu aspek dalam kelas sosial," kata Drajat.

Selain itu, lanjut dia, memacu konsumsi ikan di Tanah Air juga bisa dilakukan melalui kampanye hidup sehat. Dia mencontohkan, dengan menggabungkan kampanye gemar makan ikan dengan kampanye anti rokok.

"Ikan juga bisa dimasukkan ke dalam komoditas yang ditanggung Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Karena itu, ketersediaan sarana rantai pasok berpendingin dan mendorong pengembangan produk ikan olahan harus dipacu," kata Drajat.

Sementara itu, Susi menambahkan, perbaikan sistem logistik yang lebih efisien dan efektif juga diperlukan untuk mendukung kegiatan ekspor.

"Perlu ada pengiriman yang lebih banyak dan rute langsung," kata Susi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA