Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penjual ayam potong di Pasar Pondok Gede, Jakarta Timur,  Foto ilustrasi:  BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Penjual ayam potong di Pasar Pondok Gede, Jakarta Timur, Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Industri Perunggasan Hadapi Kenaikan Biaya Produksi

Kamis, 22 Juli 2021 | 16:34 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Di era pandemi, sektor peternakan khususnya daging ayam ras dan telur ayam memberikan kontribusi yang sangat penting untuk menjaga asupan protein masyarakat Indonesia dan diharapkan dapat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh atau imunitas sehingga bisa melawan virus yang masuk.

Kontribusi daging ayam terhadap ketersediaan protein per kapita mencapai 3,48 gram protein per kapita per hari atau setara 57,2% penyediaan protein dari komoditas daging oleh karena itu industri perunggasan nasional menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah dan termasuk industri prioritas untuk dijaga keberlangsungannya.

Saat ini, kondisi industri perunggasan nasional tengah menghadapi kendala akibat meningkatnya biaya produksi serta turunnya harga ayam hidup (livebird), peningkatan biaya produksi karena meningkatnya harga Day Old Chicken (DOC) dan pakan, khusus untuk pakan masuk ke dalam komoditas supercycle.

Sementara untuk harga DOC Final Stock Broiler di minggu ketiga Juli 2021 turun 20% jika dibandingkan harga bulan Juni berkisar antara Rp 5.255 per kilogram dan namun tetap berada di atas batas penjualan di tingkat peternak berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 tahun 2020.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan mengatakan harga pakan ayam broiler pada minggu ketiga bulan Juli 2021 berkisar pada harga Rp 8.025 per kilogram atau naik hampir 1% jika dibandingkan harga bulan Juni.

Kenaikan harga pakan ternak karena meningkatnya harga bahan baku pakan ternak baik bahan baku dari lokal atau bahan baku pengadaan dari luar negeri/impor. komoditas bahan baku jagung yang merupakan salah satu komponen utama pakan ternak juga mengalami kenaikan dari awal tahun 2021.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, harga jagung di tingkat pabrik pakan pada Juni 2021 sebesar Rp 5.700 naik 43% jika dibandingkan harga bulan Juni tahun lalu, dan berada 7% di atas harga acuan dari peraturan Kementerian Perdagangan nomor 7 Tahun 2020.

Kenaikan harga pakan dan harga DOC berdampak pada harga pokok produksi ayam broiler di tingkat peternak, dan membenani peternak rakyat mengingat penyediaan ketersediaan pakan dan DOC masih berasal dari perusahaan besar sehingga peternak rakyat tidak mempunyai daya tawar.

Sementara kondisi over supply yang terjadi mengakibatkan harga livebird terus turun dan berada di bawah Harga Patokan Petani (HPP), apabila kondisi ini dibiarkan maka akan mengancam industri perunggasan peternak rakyat yang digolongkan UMKM.
Sebagai upaya pengendalian harga DOC dan pakan ( jagung), Kemendag sudah menetapkan harga acuan melalui Permendag  Nomor 7 Tahun 2020, harga acuan ini merupakan harga yang digunakan sebagai indikator oleh pemerintah dalam rangka melaksanakan intervensi terhadap  pasar.

Tetapi jika harga sudah berfluktuasi sebagaimana ditetapkan dalam Permendag tersebut maka pemerintah akan turun tangan melakukan intervensi dalam menyikapi harga tersebut baik dari sisi peternak maupun konsumen.Kondisi harga pasar merupakan cerminan dari harga supply dan demand sedangkan intervensi dilakukan apabila harga di luar atau tidak kondusif dan pemerintah menggunakan mekanisme penugasan BUMN.

“Pemerintah biasanya menugaskan BUMN untuk intervensi jika harga terus mengalami lonjakan boleh dikatakan BUMN sebagai eksekutor,” ujar dia dalam acara diskusi Pataka, di Jakarta, Kamis (22/7).

Melihat kondisi kenaikan harga DOC dan jagung (pakan) sekaligus mendukung upaya mandiri penyediaan DOC dan jagung untuk peternak rakyat maka pemerintah sudah melakukan sedikit intervensi.

Untuk saat ini, BUMN yang ditugaskan adalah Berdikari dan mereka baru bisa menyediakan pasokan harga tetap untuk DOC terhadap peternak yang terdaftar di Berdikari dan belum menyeluruh karena keterbatasan kapasitas.

Ke depannya, diperlukan kejelasan penugasan BUMN untuk mengatur pasokan dan harga DOC dan pakan ini agar industri perunggasan Indonesia berdaya saing.

Direktur Utama, PT Berdikari (Persero) Harry Warganegara mengatakan peternakan ayam merupakan salah satu ruang lingkup bisnis Berdikari,, dimana pihaknya mengatur peternakan ayam pedaging (broiler) dan petelur secara terintegrasi dari hulu-hilir dari pembibitan, budidaya, processing dan pemasaran produk olahan.

Terkait dengan kenaikan harga DOC dan pakan, Berdikari baru mendapatkan tugas untuk mengatur DOC sementara untuk harga pakan belum mendapatkan penugasan.Kehadiran Berdikari untuk peternak rakyat adalah bersama samma dalam kemitraan ayam broiler baik di pembibitan mapun final stock, berdikari bersama klater pangan setuju untuk bisa menjaga harga pakan ternak.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN