Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja menata tumpukan beras di gudang beras Bulog, Jakarta. Foto ilustrasi: IST

Pekerja menata tumpukan beras di gudang beras Bulog, Jakarta. Foto ilustrasi: IST

JK: Bantuan Pangan Kembali dalam Bentuk Raskin

TL, Sabtu, 11 Mei 2019 | 16:09 WIB

JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa bantuan sosial pangan untuk masyarakat dalam bentuk tunai akan kembali diberikan dalam bentuk beras. Hal itu dilakukan guna mengoptimalkan penyerapan stok di gudang Perum Bulog.

“Sekarang kita akan kembalikan lagi ke raskin, dalam bentuk materi, jadi beras langsung ke masyarakat. Kenapa demikian? Karena nanti Bulog tidak tahu mau diapakan berasnya,” kata Jusuf Kalla di Jakarta, kemarin.

Wapres Jusuf Kalla. Foto: IST
Wapres Jusuf Kalla. Foto: IST

 

Jusuf Kalla yang diakrab JK menjelaskan, selama ini stok beras di gudang Bulog banyak menumpuk karena penyalurannya tidak optimal. Akibatnya, kualitas beras tersebut berkurang dan pada akhirnya tidak terpakai.

“Bulog itu ditugaskan untuk membeli beras dari masyarakat pada musim panen, tapi tidak ada penyalurannya. Maka bisa terjadi Bulog penuh. Karena tidak dikeluarkan, maka menjadi kuning, akhirnya dibuang dan itu mubazir,” kata Wapres.

Selain itu, ungkap Wapres JK, pemberian bantuan sosial serupa raskin tersebut dinilai dapat membuat harga beras di pasaran menjadi stabil.

“Maka kita kembali lagi dari tunai ke langsung pemberian beras. Memang membutuhkan pekerjaan sedikit, tapi itulah cara untuk menstabilkan harga beras ini,” ujar JK seperti dilansir Antara saat memberikan pengarahan pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2019.

Sementara itu, Direktur Advokasi Pusat Kajian Anti Korupsi UGM Oce Madril menginginkan adanya audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terkait penumpukan beras yang masih ada di gudang Bulog. “Barang itu sampai menumpuk dan malah membusuk, padahal situasi masyarakat di sisi lain banyak yang membutuhkan. Dalam hal itu, potensi kerugian itu tetap ada, maka harus diaudit oleh BPK dan BPKP,” kata Oce dalam pernyataan, kemarin.

Oce mengatakan saat ini masih banyak beras yang menumpuk dan kemudian membusuk di gudang Bulog karena tidak tersalurkan dengan baik kepada masyarakat. Karena itu, audit itu diperlukan untuk melihat kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian antara rencana dengan realisasi, karena penumpukan beras itu berpotensi menyebabkan pemborosan dan menimbulkan kerugian negara.

“Boleh jadi memang perencanaan dan realisasi tidak dirancang dengan baik, sehingga barang sudah dibeli melalui APBN itu tidak terpakai,” kata Oce.

Pekerja menata beras di Gudang Bulog, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral
Pekerja menata beras di Gudang Bulog, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral

 

Sedangkan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Firdaus Ilyas menilai terdapat pekerjaan rumah yang besar di Bulog menyangkut tata kelola yang baik untuk menjalankan tugas menyangga pangan nasional. Salah satu tugas yang belum usai tersebut antara lain belum adanya data yang baik mengenai produksi, maupun kebutuhan dan ketersediaan pasokan di gudang. “Kita banyak menemukan ketidaksinkronan data, baik data produksi, kebutuhan dan barang yang ada di Bulog,” kata Firdaus.

Hal itu diperparah dengan adanya dugaan praktik pemburu rente yang memanfaatkan kelangkaan bahan pangan serta pengaduan tidak adanya beras Bulog di pasar tradisional. Selain itu, inovasi beras sachet untuk mengatasi persoalan penumpukan beras juga tidak efektif pelaksanaannya dan berpotensi menyebabkan kerugian produksi.

“Ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari ketidakcukupan persediaan pangan,” ujar Firdaus.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN