Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebakaran hutan. Foto ilustrasi: beritasatu.com

Kebakaran hutan. Foto ilustrasi: beritasatu.com

Karhutla Lepas 109 Juta Ton Ekuivalen CO²

Damiana Simanjuntak, Rabu, 11 September 2019 | 00:01 WIB

JAKARTA, investor.id - Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ruandha Agung Sugardiman mengatakan, data per tanggal 31 Agustus 2019, luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 328.724 hektare (ha). Dimana, 89.563 ha diantaranya terjadi di areal gambut, sedangkan 239.161 ha lainnya di lahan mineral. Dari luas karhutla di lahan mineral, hingga 108 ha terjadi di lahan sabana Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Dari hasil perhitungan kami, total emisi CO² akibat karhutla ini sebesar 109,7 juta ton ekuivalen. Dimana, dari gambut ada 82,7 juta tom ekuivalen CO², sedangkan karhutla lahan mineral melepaskan 82,7 juta ton CO² ekuivalen. Sepanjang tahun 2018, karhutla menghasilkan emisi CO² sebesar 121 juta ton ekuivalen," kata Ruandha saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (10/9).

Ruandha mengatakan, pemerintah saat ini terus berupaya menekan potensi terjadinya karhutla. Salah satunya, kata dia, dengan mengadakan hujan buatan. Apalagi berdasarkan data BMKG, saat ini beberapa wilayah telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) hingga 100-120 hari.

"KLHK mengubah paradigma, dari pemadaman menjadi pencegahan. Ini sudah kami lakukan sejak awal, sejak bulan Februari. Tapi, ini memang siklus tahunan. Dan, kita memang mengalami El Nino lemah. Apalagi Australia juga terbakar, sehingga udara dari Tenggara semakin panas dan kering. Ada sekitar 1.200 desa yang rawan nenjadi sasaran patroli kami," kata Ruandha.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menuturkan, persiapan hujan buatan saat ini terus dilakukan. Sambil, menunggu munculnya bibit-bibit awan. Di sisi lain, lanjut Dwikorita, pihaknya telah mengantisipasi perkembangan munculnya titik panas (hotspot) dalam 2 bulan ke depan.

Dwikorita Karnawati
Dwikorita Karnawati

 "Jadi, kami sudah siapkan sebelumnya. Ini tinggal menunggu munculnya bibit-bibit awan. Karena, tanpa bibit awan tidak bisa buat hujan buatan. Dari citra satelit sebetulnya bibit-bibit awan itu sudah kelihatan. Sebelumnya di hampir seluruh wilayah Indonesia itu kelihatan hitam, artinya tidak ada awan, bersih. Tapi, jam 9 pagi terdeteksi ada bibit awan dan saat ini sudah beroperasi hujan buatan. Sudah dilakukan di Palembang dan Pekanbaru. Dan, sedang disiapkan operasi penyemaian di Kalimantan Barat," tutur Dwikorita.

Sementara itu, Deputi bidang Meteorologi R Mulyono R Prabowo menambahkan, musim kemarau tahun 2019 masih akan berlangsung hingga pertengahan bulan November. Artinya, kata dia, potensi hujan kemungkinan terjadi pada akhir bulan November. Lalu, baru pada awal Desember ada potensi hujan cukup signifikan.

"BMKG sebelumnya sudah merilis prediksi musim kemarau. Memang, prediksinya musim kemarau mundur. Umumnya, bulan Okober sudah dapat hujan, tapi dengan El Nino lemah ini musim hujan mundur sampai November. Atau, mundur 1-2 dasarian. Tapi, ini tidak akan berlangsung sama di seluruh wilayah Indonesia. Karena, akhir musim kemarau lebih panjang biasanya di NTT. Kecenderungannya, wilayah Indonesia Barat akan hujan lebih awal dibandingkan Timur," kata Prabowo.

Selain itu, Dwikorita menambahkan, suhu muka laut di perairan lokal dan Samudera Hindia terutama Barat pulau Sumatera lebih dingin sari kondisi normal yang biasanya 26-27 derajat Celcius.

"Akibatnya, tidak ada penguapan dan awan. Makanya, menjadi sulit bikin hujan buatan," kata Dwikorita.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA