Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tambak udang, Foto Ilustrasi: Ist

Tambak udang, Foto Ilustrasi: Ist

KKP Targetkan Indonesia Jadi Produsen Udang Terbesar di Dunia 2024

Kamis, 14 Januari 2021 | 14:02 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menargetkan Indonesia menjadi produsen udang vaname terbesar di dunia dengan jumlah produksi 16 juta ton per tahun.Target tersebut bisa dicapai dengan pembukaan tambak udang seluas 200 ribu hektar hingga 2024.

Indonesia, kata Wahyu Trenggono, termasuk lima besar produsen udang di dunia dengan besaran produksi di bawah 1 juta ton per tahun sementara posisi teratas dipegang oleh Tiongkok,Ekuador, Vietnam dan India.

Menurut dia, jika Indonesia berhasil membangun 200 ribu hektar tambak udang dengan dua siklus panen 80 ton per hektar/tahun maka dalam satu tahun analisa ekonominya bisa menghasilkan hampir Rp 1.200 triliun.

Implikasi dari pembangunan tambak udang 200 hektar ini,tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai produsen udang nomor satu di dunia tetapi juga mampu membangun sistem pertahanan yang kokoh untuk melindungi kekayaan maritim.

“Seandainya ini teralisasi, Indonesia akan dikenal sebagai produsen udang terbesar di dunia,” ujar dia di Jakarta, Kamis (14/1).

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Foto: IST
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Foto: IST

Keiikutsertaan dalam membangun sistem pertahanan yang kokoh di sektor maritim sangat penting karena sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan, dampaknya tidak hanya untuk kedaulatan tetapi juga menjaga kekayaan laut dari praktik illegal fishing oleh kapal asing maupun destructive fishing.

Di samping itu, KKP juga akan membangun kampung kampung perikanan budidaya di beberapa wilayah Indonesia untuk meningkatkan ekonomi masyarakat seperti Kampung Lele, Kampung Patin, Kampung Udang hingga Kampung Kakap.

KKP akan bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam merealisasikan pembangunan tersebut, ke depan  akan ada satu wilayah dengan Pemda, disana proses hulu sampai hilir akan berlangsung.

Program unggulan dari KKP ini sejalan dengan tagline mengembangkan perikanan budidaya berkelanjutan, riset dan teknologi budidaya juga akan diperkuat agar produktivitas tidak menganggu kelestarian lingkungan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya perbaikan struktur ekonomi masyarakat pembudidaya ikan di penghujung tahun 2020. Tercatat Nilai Tukar Pembudidaya Ikan bulan Desember 2020 senilai 101,24 naik 0,58 poin dibandingkan bulan November yang mencapai 100,65, di samping itu, Nilai Tukar Usaha Pembudidayaan Ikan juga naik 0,77 poin dari periode November sebesar 100,94 menjadi 101,72 di bulan Desember lalu.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan bahwa peningkatan angka Nilai Tukar Pembudidaya Ikan menunjukkan adanya perbaikan efisiensi usaha yang dipicu oleh semakin membaiknya harga komoditas utama budidaya.

Meskipun inflasi bulan Desember secara nasional mengalami kenaikan 1,68% dibandingkan bulan Desember 2019 namun karena usaha budidaya semakin efisien maka pembudidaya merasakan adanya nilai tambah ekonomi, ia berharap indikator ini terus naik sehingga ada peningkatan kapasitas usaha melalui re investasi.

Memasuki triwulan IV, sistem distribusi dan transportasi serta serapan pasar secara perlahan mulai pulih mengikuti kondisi new normal sehingga sumbatan supply and demand mulai terurai, sedangkan pendapatan pembudidaya ikan pada triwulan IV 2020 tidak mengalami kenaikan jika dibandingkan triwulan III di tahun yang sama yaitu rata rata Rp 3,5 juta per bulan.

Namun demikian jika dibandingkan triwulan II tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 7,58%, berbagai dukungan langsung dinilai mampu mendorong efisiensi produksi budidaya, disamping mulai berjalannya rantai suplai memberikan efek kembali bergairahnya usaha pembudidayaan ikan.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN