Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

KPPU Pantau Lonjakan Harga Cabai

Minggu, 12 Februari 2017 | 16:26 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

MAKASSAR – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Komisi VI DPR melakukan pemantauan langsung harga cabai di Makassar, Sulawesi Selatan, setelah harga komoditas itu di hampir seluruh daerah di Indonesia juga melambung tinggi.

 

“Harga cabai merah itu sampai sekarang masih sangat tinggi, di beberapa tempat bertahan pada Rp 150 ribu per kilogram (kg) dan di beberapa daerah lainnya sekitar Rp 100 ribu per kg,” ujar Ketua KPPU RI Syarkawi Rauf di Pasar Mandai Makassar, Jumat.

 

Dia mengatakan, tingginya harga cabai di semua daerah di Indonesia ini masih harus ditelusuri apa yang menjadi penyebab sehingga cabai naik hingga 10 kali lipat dari harga normalnya. Tingginya harga cabai di atas angka Rp 100 ribu per kg sangat tidak rasional karena harga normalnya hanya berkisar Rp 15 ribu per kg.

 

“Sangat tidak rasional, biasanya kenaikan itu hanya berkisar 10-30 persen, tapi ini 100 persen kenaikannya. Inilah kita kumpulkan informasinya diseluruh daerah, apakah ada permainan Bandar (pengusaha besar) ataukah tidak,” katanya seperti dilansir Antara.

 

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan di Pasar Mandai, Makassar, para pedagang menjual cabai rawit mulai dari Rp 90-120 ribu per kg. Harga termurah Rp 90 ribu per kg itu didapatkan dari pedagang pasar yang ada di bagian dalam, sedangkan pedagang yang berjualan di bagian luar pasar justru menjual cabainya seharga Rp 110-120 ribu per kg.

 

“Ini kenapa bisa beda harganya, di luar harganya Rp110 ribu, di sini harganya Rp 90 ribu?” tanya Syarkawi ke pedagang tersebut.

 

Setelah mendapatkan penjelasan disimpulkan bahwa jika umumnya pedagang yang berjualan di dalam pasar Mandai itu mendapatkan langsung cabai rawit itu dari pasar induk di Makassar yakni Pasar Terong. Rantai distribusi pangan yang sangat panjang membuat harga yang diterima pedagang di pasar-pasar sudah mengalami kenaikan hampir dua kali lipat dari harga yang seharusnya dari petani.

 

Sementara itu, anggota Komisi VI DPR Eka Sastra menambahkan, bergejolaknya harga pangan maupun unggas ini harus menjadi perhatian pemerintah maupun KPPU karena Ramadhan tersisa beberapa bulan lagi. “Ini harus ditemukan apa permasalahannya, jika memang ada terjadi pelanggaran yang dilakukan para bandar, maka sudah patut untuk ditindaklanjuti oleh KPPU,” jelasnya.

 

Sementara itu, cabai impor mulai memasuki pasar tradisional di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, seiring melambungnya harga cabai lokal di kisaran Rp 140 ribu per kg. “Ya, cabai impor ini menjadi alternatif sementara harga cabai lokal sangat mahal,” kata Bagio, salah satu pedagang besar cabai di Pasar Ngemplak, Tulungagung.

 

Animo masyarakat terhadap cabai impor cukup tinggi. Meski tidak semuanya beralih, Bagio mengklaim penjualan cabai impor terus mengalami peningkatan selama beberapa pekan terakhir. Harganya yang murah membuat cabai impor ini mulai diminati pembeli. Sejumlah pedagang dan pembeli mengaku terpaksa membeli atau belanja cabai impor karena harganya yang hampir 50% lebih murah dari cabai lokal. (tl) 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN