Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Mendag Tegaskan Sawit Esensial bagi RI

Gora Kunjana, Jumat, 18 Januari 2019 | 20:33 WIB

WASHINGTON – Kelapa sawit merupakan komoditas yang esensial bagi Republik Indonesia serta sebagai salah satu sumber dari minyak yang paling ekonomis dan produktif bila dibandingkan dengan minyak dari tumbuhan lainnya seperti kedelai dan rapeseed.

"Minyak sawit telah membantu mengangkat banyak warga dari kemiskinan dan menciptakan kalangan kelas menengah," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita seperti dilansir Antara saat seminar sawit sebagai pemberdayaan masyarakat yang digelar di Kedubes RI di Washington DC, kemarin.

Menurut Mendag, berdasarkan sejumlah penelitian, minyak sawit juga dapat menghasilkan produktivitas energi yang lebih baik bila dikomparasikan dengan jumlah yang dihasilkan minyak dari berbagai tumbuhan jenis lainnya.

Berdasarkan riset peneliti dari Institute of Farm Economics, von Thunen Institute, pada 2010 menunjukkan, biaya produksi per ton dari rapeseed berkisar US$ 1.000-1.200 per ton di Eropa Barat, biaya produksi kedelai US$ 800 per ton di AS, serta US$ 400 per ton di Argentina dan Brazil, sedangkan biaya rata-rata produksi sawit US$ 380 per ton.

Sementara data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyebutkan bahwa rapeseed dan kedelai masing-masing hanya menghasilkan 0,69 ton per hektare (ha) dan 0,45 ton per ha, sedangkan sawit diketahui dapat menghasilkan 3,85 ton per ha. Berbagai kalangan juga mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar cair di Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI) Tatang Hernas S dalam diskusi Sawit Bagi Negeri di Jakarta, Rabu (9/1), menyatakan, keberadaan minyak sawit sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Karena itu, keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung oleh semua pihak.

Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kismanto juga menyatakan, bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi. Sebab itu, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi harus terus didorong supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan.

Terkait hal itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan.

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor menjelaskan, persoalan masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, lantaran produksi masih jauh dari kapasitas industri sehingga asosiasi tersebut mendorong penggunaan konsumsi biodiesel lebih besar di Indonesia. (tl)

BAGIKAN