Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Press Conference untuk Penyelenggaraan IPOC 2020 bersama Ketua Umum Gapki (tengah), Ketua IPOC 2020 (kanan), dan Wakil Sekretaris Jenderal Gapki (kiri).

Press Conference untuk Penyelenggaraan IPOC 2020 bersama Ketua Umum Gapki (tengah), Ketua IPOC 2020 (kanan), dan Wakil Sekretaris Jenderal Gapki (kiri).

GELAR IPOC 2-3 DESEMBER 2020

Pengusaha Sawit Bahas Strategi Hadapi Normal Baru

Sabtu, 21 November 2020 | 09:57 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id –Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bahwa industri sawit nasional memerlukan strategi yang tepat untuk menjaga kestabilan harga dan daya saing dalam situasi yang tidak pasti dan masuknya era tatanan baru (new normal) pada tahun depan.

Untuk membahas strategi tersebut, Gapki akan menggelar konferensi minyak sawit terbesar, Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), pada 2-3 Desember 2020 secara daring, dengan tema Palm Oil Industry in the New Normal Economy.

Pandemi Covid-19 memang tidak terpengaruh secara signifikan terhadap industri sawit nasional karena perkebunan kelapa sawit umumnya ada di lokasi terpencil sehingga kegiatan operasional tetap berjalan dengan normal meski tetap menerapkan protokol kesehatan.

Meski demikiankekhawatiran tetap saja ada karena daya konsumsi yang menurun akibat perubahan pola hidup dan perlambatan ekonomi yang tentunya mempengaruhi permintaan secara global. Jika permintaan menurun dan produksi meningkat maka hukum ekonomi berlaku yaitu harga menjadi turun atau murah.

“Karena itu, perlu strategi yang tepat untuk menjaga kestabilan harga dan daya saing dalam situasi yang tidak pasti ini,” kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dalam konferensi pers penyelenggaraan IPOC 2020 di Jakarta, Jumat (20/11).

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono

Joko menjelaskan, pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia menjadi faktor yang harus dianalisa untuk membuat ramalan (forecasting) tren industri sawit ke depan. Hal itu mengingat tidak semua negara di dunia saat ini mengalami kondisi perekonomian yang sama.

“Beberapa Negara telah mengalami recovery, tapi negara lain ada juga yang mengalami gelombang ketiga (Covid-19). Artinya, tidak mudah bagi pelaku industri sawit ini untuk membuat forecasting di saat masa transisi seperti saat ini,” ujar Joko.

Ketua Panitia Penyelenggara IPOC Mona Surya menambahkan, pandemi Covid-19 telah berdampak kepada ekonomi dan perdagangan global. Beberapa negara bahkan telah mengalami resesi ekonomi sehingga perlambatan ekonomi dan pembangunan tidak terhindari. Saat ini, semua negara berlomba- lomba menyusun strategi memulihkan ekonomi di negaranya masing-masing, termasuk Indonesia.

“Tahun ini sangat istimewa. Kita juga menyaksikan bagaimana fluktuasi harga berbagai komoditas terjadi, bahkan harga minyak mentah jatuh pada titik terendah. Karena itu, Palm Oil Industry in the New Normal Economy diambil sebagai tema khusus IPOC dengan harapan bisa menjadi rujukan pembahasan secara lebih komprehensif mengenai strategi pemulihan ekonomi di era normal baru,” papar Mona Surya.

IPOC 2020 atau 16th Indonesian Palm Oil Conference and 2021 Price Outlook untuk pertama kalinya digelar daring. IPOC 2020 juga akan membahas perkembangan industri sawit Indonesia dan global terkini serta menganalisis tren harga minyak sawit ke depan. Konferensi selama dua hari ini akan membahas rencana pemulihan ekonomi Indonesia secara makro dengan berbagai kebijakan moneter, fiskal, dan kebijakan pengembangan energi terbarukan.

“Dunia industri tentunya sangat terpengaruh oleh setiap kebijakan yang dibuat pemerintah, sehingga pemahaman akan kebijakan-kebijakan baru akan membantu dalam menentukan strategi bisnis perusahaan ke depan,” ungkap Mona.

IPOC juga membahas peluang pasar minyak sawit dunia di beberapa negara tujuan utama ekspor, supply and demand minyak nabati dunia, tren pasar global, dan proyeksi harga minyak sawit untuk tahun berikutnya,” kata Mona.

IPOC merupakan wadah para pelaku bisnis dan pemangku kepentingan (stakeholders), pemilik, CEO dan eksekutif, dan para pengambil kebijakan di tingkat nasional maupun internasional untuk bersama-sama membahas isu-isu strategis seputar industri sawit dari hulu sampai ke hilir.

IPOC juga merupakan media bagi para pelaku usaha untuk memperluas jaringan usahanya baik melalui program sponsorship maupun jaringan komunikasi virtual yang disediakan panitia. IPOC tahun ini akan dibuka Menko Perekonomian RI yang sekaligus memberikan special keynote speech, Menko Kemaritiman dan Investasi RI juga dijadwalkan memberikan special address terkait iklim investasi Indononesia pascapandemi Covid-19.

Sudah menjadi tradisi, IPOC menghadirkan pembicara-pembicara ahli senior dunia untuk menguak tren harga, seperti Dorab Mistry (Godrej International Ltd), James Fry (LMC International), dan Thomas Mielke (Oil World).

Tahun lalu, penyelenggaraan IPOC dihadiri lebih dari 1.500 peserta dari 25 negara (di luar tamu undangan khusus dan pengunjung). Tahun ini, karena dilakukan secara daring, kehadiran dibatasi maksimum 1.000 peserta dari lebih 25 negara di dunia. Saat ini, kuota telah mencapai hampir 850 peserta, ini menunjukkan animo masyarakat tetap tinggi.

Tidak Ada Eksploitasi Pekerja

Sumarjono Saragih, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Gapki
Sumarjono Saragih, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Gapki

Sementara itu, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Gapki Sumarjono Saragih mengatakan, perusahaan sawit di Indonesia terutama yang menjadi anggota Gapki tidak mungkin melakukan praktik ketenagakerjaan yang melanggar ketentuan perundangan serta prinsip dan kriteria dalam Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Industri sawit nasional sudah mampu menciptakan iklim kerjayang kondusif dan layak bagi parapekerjanya.

“Bahkan, Gapki telah bekerja sama dengan ILO (Organisasi PBB untuk urusan pekerja) dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional dalam membangun sistem ketenagakerjaan yang layak di sektor perkebunan sawit,” ungkap Sumarjono Saragih.

Pernyataan itu menanggapi pemberitaan tentang eksploitasi tenaga kerja wanita di perkebunan sawit. Sejak pandemi Covid-19 yang terjadi pada Maret 2020, perusahaan perusahaan sawit anggota Gapki melaksanakan protokol kesehatan yang ketat yang mana akses keluar masuk ke dalam kebun dibatasi.

Perusahaan anggota Gapki tunduk dan patuh dengan semua UU Ketenagakerjaan, bahkan Gapki menargetkansampai akhir 2020 semua anggota Gapki sudah bersertifikasi ISPO dan jika sudah ada ISPO makatidak ada lagi isu terkait tenaga kerja. Data Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, ada sekitar 4,40 juta tenaga kerja langsung yang bekerja di sektor sawit dan sekitar 12 juta tenaga kerja tidak langsung serta 2,70 juta petani.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN