Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Beras Bulog. Foto  IST

Beras Bulog. Foto IST

Penyimpanan Beras Bulog Gunakan Cocoon

Damiana Simanjuntak, Rabu, 14 Agustus 2019 | 23:43 WIB

JAKARTA, investor.id --Direktur Operasional & Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan, untuk menjaga kualitas beras di gudang, pihaknya menggunakan teknologi cocoon. Yakni, cara menyimpan beras dan biji-bijian menggunakan penutup berbahan plastik yang akan menyungkup beras, terjaga kualitasnya pada waktu tertentu.

Tri menjelaskan, metode cocoon menjaga kadar CO2 pada titik tertentu dan meminimalkan oksigen. Dengan kontrol CO2 dan oksigen yang minimal, tidak lagi ada kesempatan bagi hama untuk hidup dan mengganggu atau menurunkan mutu beras.

"Penyimpanan dengan cocoon ini ramah lingkungan karena tidak ada lagi perlakuan-perlakuan dan perawatan dengan menggunakan obat-obatan kimia. Kalau dengan penyimpanan konvensional, perlu perlakuan spraying dan fumigasi bahan kimia. Tapi, selama tersimpan dalam sungkup plastik cocoon, tidak diperlukan lagi perlakuan tersebut. Dengan begitu, Bulog dapat menghemat pemgeluaran biaya perawatan beras secara signifikan," kata Tri dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Rabu malam (14/8).

Bulog, kata Tri, tengah menghitung penghematan yang diperoleh dengan metode cocoon.

"Yang jelas, kalau dalam setahun, kami melakukan fumigasi 3 kali dan spraying 10-12 kali. Tapi, dengan teknologi cocoon kami tidak melakukan otu lagi. Jadi, nggak butuh biaya untuk itu lagi," kata Tri.

Menurut Tri, dengan cocoon, hama-hama yang biasanya muncul pada bulan kedua atau ketiga saat penyimpanan, tidak akan berkembang, bahkan mati.

Bulog, kata Tri, mulai menerapkan metode penyimpanan beras dengan cocoon sejak bulan Juli-Agustus 2018. Untuk membuktikan hasil, kata dia, telah dilakukan pembukaan sungkup cocoon 180 ton beras yang disimpan di gudang Duyungan, Subdivre Surakarta, Jawa Tengah. Beras tersebut, kata dia, hasil pengadaan tahun 2018 dan telah disimpan selama 1 tahun.

"Hari ini, kami membuka sungkup cocoon yang menyimpan 180 ton beras. Beras hasil cocon tersebut bisa langsung kami salurkan untuk sisa bansos rastra sampai akhir Agustus atau untuk KPSH. Besok, kami akan buka lagi di Cirebon. Saat ini, yang kami simpan ada sekitar 500-1.000 ton, tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Kondisi, kualitas, dan jumlah berasnya sama dengan saat awal disimpan. Kemasan karung pembungkus juga masih tampak bagus dan rapi seperti semula saat dimasukkan dalam sungkup cocoon," lanjut Tri.

Tri mengklaim, metode penyimpanan cocoon tersebut adalah salah satu inovasi Bulog sebagai bagian dari penugasan untuk menjaga jumlah stok beras yang aman.

"Sebagai penjaga ketahanan pangan, Bulog terus melakukan inovasi untuk menyediakan pasokan pangan dengan lebih mengutamakan pengadaan dalam negeri, menjaga sejumlah stok tertentu yang selalu tersedia, serta siap melaksanakan penyediaan pasokan ke setiap lini masyarakat dengan harga yang terjangkau dan stabil," kata Tri.

Ke depan, lanjut dia, metode cocoon akan menjadi bagian dari pelayanan Bulog. Untuk menjaga stok pangan pada jumlah yang aman dan dalam jangka waktu yang lebih lama.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN