Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Perikanan Budidaya Sumbang Rp21 Triliun

Jumat, 3 Juli 2015 | 12:55 WIB
ah

JAKARTA – Kontribusi perikanan budidaya mendominasi peningkatan produksi subsektor perikanan pada triwulan I-2015 sebesar 2,92 juta ton atau setara dengan Rp 21 triliun. Produksi perikanan budidaya ikut mendongkrak peningkatan produk domestik bruto (PDB) subsektor perikanan triwulan I-2015 yang mencapai 8,64%, lebih besar dari peningkatan PDB nasional 4,7%.


Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan, peningkatan produksi perikanan budidaya tersebut sebagian besar disumbang dari produksi rumput laut yang mencapai 2,1 juta ton senilai Rp 4,9 triliun, kemudian ikan nila 149 ribu ton senilai Rp 2,5 triliun, dan bandeng yang mencapai 137 ribu ton senilai Rp 1,9 triliun.


“Kami optimistis peningkatan produksi perikanan budidaya ini akan terus meningkat sepanjang 2015 dan mencapai target yang telah ditetapkan sebesar 17,9 juta ton,” kata Slamet dalam rilisnya, kemarin.


Beberapa strategi telah disiapkan KKP untuk menggenjot produksi perikanan budidaya di antaranya dengan memperkuat peran rumput laut sebagai komoditas unggulan. Komoditas ini menyerap tenaga kerja, memiliki pasar yang tidak terbatas, dan produksinya sangat beragam. Tidak semua negara di dunia bisa menghasilkan rumput laut.


Saat ini, rumput laut masih menjadi daftar pertama yang menjadi komoditas unggulan budidaya. “Tahun ini, produksinya ditargetkan 10,6 juta ton. Hingga 2019, rata-rata pertumbuhan produksi rumput laut mencapai 16,74% per tahun,” kata dia.


Slamet menambahkan, mulai tahun ini, pihaknya juga memperhitungkan bawal bintang sebagai komoditas andalan. Tahun ini, target produksinya masih 1.900 ton. Namun, target pertumbuhannya akan 31,5% per tahun hingga 2019. Bawal bintang merupakan primadona baru, karena merupakan salah satu komoditas alternatif budidaya laut atau marikultur. Harga jualnya bersaing, sekitar Rp 70 ribu per kilogram (kg), waktu budidaya lebih cepat dibanding kerapu, yaitu enam bulan dari ukuran benih tebar serta lebih mudah dalam pemeliharaannya.


Komoditas lain yang juga terus dikembangkan adalah kekerangan. Target produksi kekerangan pada tahun ini 233.700 ton dan ditargetkan tumbuh 32,60% per tahun hingga 2019. Selama ini, kekerangan memang belum diperhitungkan dan pembinaannya masih kurang sedangkan kebutuhan di dalam negeri cukup tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan, selama ini justru dilakukan impor dari Eropa, karena di Tanah Air belum diperhatikan secara serius. Padahal potensi kekerangan di laut Indonesia sangat hebat.


Itu sebabnya sudah mulai dijalankan strategi pemberdayaan masyarakat seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB), Banten, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk mendukung peningkatan produk perikanan budidaya, khususnya peri kanan darat, KKP juga menggulirkan program gerakan pakan ikan mandiri (gerpari). (tl)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN