Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Perlu Sinkronisasi Produksi Pengolahan Rumput Laut

Selasa, 29 Mei 2012 | 12:21 WIB
Antara

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mendorong singkronisasi produksi dan pengolahan rumput laut.

"Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dapat bekerja sama agar baik produsen di hulu maupun pabrik pengolahan di hilir memiliki satu mata rantai sehingga rumput laut Indonesia dapat menjadi pemain besar di dunia," kata Sharif saat menerima kunjungan pengurus ARLI di Jakarta, Selasa.

Menteri KKP mengungkapkan bahwa saat ini produksi rumput laut basah Indonesia adalah sebesar 6 juta ton dan sebagian besar diekspor dalam keadaan kering.

"Namun jumlah produk olahan rumput laut kering yang diekpor baru 20%-nya padahal dari sejumlah industri pengolahan rumput laut dalam negeri mengatakan kepada saya bahwa mereka baru mendapat suplai rumput laut 40-50% dari kapasitas produksi artinya terjadi kekurangan bahan baku," jelasnya.

Sharif menyesalkan bila ada industri pengolahan yang mengeluh tidak mendapat pasokan, padahal produksi rumput laut Indonesia lebih banyak diekpsor.

"Kami sedang mempelajari kemungkinan revisi target yaitu pada 2015 menjadi produsen hasil laut terbesar di dunia, termasuk rumput laut sebanyak 19 juta ton, artinya naik tiga kali lipat dari jumlah saat ini, apakah hal ini mungkin?," tambah Sharif.

Perhitungannya, menurut dia, adalah China sudah memproduksi ikan budi daya 40 juta ton dan ikan hasil tangkapan 16 juta ton, sedangkan ikan hasil budidaya Indonesia baru 4,5 ton dan ikan tangkapan 5,5 juta ton.

"Total ikan kita hanya 10 juta ton, sedangkan China sudah 56 juta ton, jadi apakah target sebagai produsen teresar di dunia sudah pas? Meski saat ini kita memang menjadi produsen ketiga terbesar di dunia," tambah Sharif.

Terkait dengan rumput laut, Sharif juga mengungkapkan bahwa produksi saat ini mencapai 6 juta ton rumput laut basah, artinya 600 ribu ton rumput laut kering dengan 50% diekspor.

"Bila produksi ingin ditingkatkan hingga 800 ribu ton rumput laut kering pada 2014, maka ada 500 ribu ton rumput laut kering yang tidak terserap pasar domestik," tambah Sharif.

Namun Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebijakto mengungkapkan bahwa melimpahnya pasokan rumput laut dapat diatasi dengan peningkatan industri pengolahan rumput laut.

"Ke depan akan lebih banyak lagi industri pengolahan, jadi orientasi kami bukan lagi mengekpor bahan baku saja, tahun ini kami sudah menetapkan 4 provinsi untuk percontohan budi daya rumput laut ini," kata Slamet.

Empat provinsi tersebut adalah Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Minahasa. (ant/gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN