Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri LHK Siti Nurbaya

Menteri LHK Siti Nurbaya

Persiapan Pemerintah Indonesia Jelang Konferensi Perubahan Iklim Dunia

Rabu, 21 Juli 2021 | 10:41 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Setiap tahunnya, para negara pihak yang tergabung dalam Conference of The Parties (COP), United Nations on the Framework of Climate Change Conference (UFCCC) melangsungkan pertemuan untuk membahas kebijakan- kebijakan dalam pengendalian perubahan iklim tingkat global.
Indonesia termasuk salah satu negara yang turut ambil bagian dalam perundingan tersebut yang juga telah meratifikasi perjanjian Paris.

Menjelang perundingan COP UNFCCC ke 26 yang diselenggarakan di Glasgow, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya secara virtual memberikan arahan kepada para calon delegasi Republik Indonesia yang akan menjadi negosiator dalam berbagai persidangan COP-26 UNFCCC.

Menteri Siti menyampaikan beberapa hal yang dapat menjadi wawasan bagi para calon delegasi, Pertama, terkait pembaruan Nationally Determined Contributions (Updated NDC Indonesia) dimana Indonesia berkomitmen menaikkan ambisi adaptasi perubahan iklim dengan memasukkan aksi aksi yang lebih nyata, adaptasi di sektor kelautan serta lebih terintegrasi dengan isu penting lainnya seperti keanekaragaman hayati dan desertifikasi.

Updated NDC juga memperbarui informasi tentang visi pemerintah dan pembangunan jangka panjang serta menjabarkan dan merinci strategi implementasi tentang adaptasi serta peningkatan transparansi. Kemudian juga menambah subjek baru dan penguatan komitmen dengan memasukkan laut, lahan basah (mangrove dan lahan gambut) serta kawasan pemukiman, Indonesia juga memperkuat komitmen untuk memanfaatkan berbagai peluang kerjasama internasional.

Updated NDC secara implisit menunjukkan ambisi 41% target yang akan dicapai dengan memperkuat langkah langkah implementasi, kerjasama teknis luar negeri dalam hal teknologi dan pengembangan sektor swasta, misalnya dalam kegiatan electro mobility yang telah dirintis dan dimulai seperti pengembangan listrik solar panel.

Kemudian juga mempertegas peran teknologi dan kerjasama internasional swasta dan dukungan internasional seperti dalam hal proyeksi rehabilitasi mangrove hingga 600 ribu hektar sampai akhir 2024, peningkatan peran rehabilitasi lahan oleh swasta hingga lebih dari 200 ribu hektar dan pengembangan kompleks green industry supported by green energy di Kalimantan Utara seluas 12 ribu hektar.

Kedua, pemerintah Indonesia telah menyusun strategi jangka panjang yang akan menjadi pedoman dalam implementasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta komitmen NDC lima tahunan selanjutnya, sejak tahun 2020, Indonesia telah berproses untuk menyusun dokumen Long Term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050, menuju net zero emissions dengan tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi yang bertumbuh dan berkeadilan.

“Dokumen long term strategy 2050 disusun berdasarkan kondisi perekonomian dan turunnya kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta pembelajaran atas rentannya kondisi global menghadapi pandemi Covid-19 dengan tetap optimistis mengacu pada prospek pemulihan pascapandemi,” ujar dia di Jakarta, Rabu (21/7).

Sektor agriculture, forestry dan land use dan sektor energi akan sangat menentukan jalan yang akan dituju pada tahun 2050, dengan skenario paling ambisius yaitu low carbon compatible with paris agreement, secara nasional Indonesia akan mencapai peaking pada tahun 2030 dengan sektor agriculture, forestry sudah mendekati net sink.

Ketiga, calon delegasi harus bisa menyakinkan pengendalian perubahan iklim Indonesia sudah baik, Indonesia sering menjadi sorotan atas capaian, prestasi dan kebijakan yang menawarkan solusi, sedangkan secara bilateral, Indonesia di berbagai kesempatan didekati oleh negara yang dengan maksud untuk menjadi mitra dalam menangani perubahan iklim.

Kebakaran hutan di tahun 2015 dengan luas areal terbakar 2,6 juta hektar dari interpretasi citra satelit, serta 1,6 juta hektar pada tahun 2019 memberikan pelajaran sangat berharga dan kemudian terus diupayakan dengan kerja keras untuk dapat diatasi.

Pada konteks emisi karbon bisa dihitung emisi gas rumah kaca pada tahun 2015 sebesar 1,5 Gton CO2, pada tahun 2019 menjadi 0,9 Gton CO2eq, diantara 0,9 Gton CO2eq tersebut yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan tercatat sebesar 0,45 Gton CO2 eq dan pada tahun 2020 turun menjadi 0,03 Gton CO2eq.

Kemudian terkait dengan  deforestasi dan degradasi hutan menjadi perhatian banyak negara, Indonesia sudah mulai menghitung tingkat deforestasi sejak tahun 1990, faktanya deforestasi tertinggi terjadi pada periode tahun 1996 hingga 2000 yaitu sebesar 3,5 juta per hektar pe tahun,

Kemudian pada periode 2002 hingga 2014 menurun hingga 600 ribu sampai 400 ribu hektar, akhirnya mencapai titik terendah laju deforestasi pada tahun 2020 sebesar 115 ribu hektar.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN